Senin, 13 Juli 2015

Komunikasi Bisnis: Promosi dan Iklan dalam proses Komunikasi Bisnis



PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Dalam era globalisasi perkembangan pesat terjadi pada hampir semua sektor dan berbagai perubahan sering mewarnai bahkan ada pepatah yang mengatakan sesuatu yang pasti di dunia ini adalah perubahan. Kemajuan pada berbagai bidang seperti ilmu pengetahuan, telekomunikasi, teknologi informasi, jaringan transportasi dan sektor-sektor kehidupan lainnya, mengakibatkan arus informasi semakin mudah dan lancar mengalir kepada setiap individu dan kelompok yang membutuhkannya.
Melalui kemajuan ini memudahkan perusahaan/organisasi untuk melakukan promosi produk mereka kepada khalayak ramai melalui iklan baik iklan yang ada di televisi, iklan yang ada di jalan raya maupun iklan yang kita dengar melalui radio serta iklan yang dapat kita lihat pada situs web. Yang mana periklanan merupakan salah satu unsur dalam komunikasi pemasaran.
Dalam promosi dibutuhkan komunikasi yang efektif yang mana komunikasi yang efektif sangat membantu untuk memperjelas atau memperinci produk yang perusahaan kita produksi. Bukan hanya komunikasi efektif saja tapi dalam promosi juga digunakan komunikasi persuasif untuk membujuk dan mengajak konsumen untuk membeli/menggunakan produk yang kita jual/produksi.
Oleh sebab itu, orang yang terlibat dalam promosi tersebut harus memiliki kecakapan dalam berkomunikasi serta dapat merayu dan membuju orang lain untuk dapat membeli produk tersebut. Dengan demikian konsumen akan membeli produk yang perusahaan kita produksi/hasilkan.



1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana strategi promosi dan periklanan?
2.      Bagaimana periklanan dalam sistem komunikasi massa?
3.      Apa saja keputusan penting dalam periklanan?
4.      Apa saja media periklanan?

1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui bagaimana strategi promosi dan periklanan.
2.      Untuk mengetahui periklanan dalam sistem komunikasi massa.
3.      Untuk mengetahui keputusan penting dalam periklanan.
4.      Untuk mengetahui media yang digunakan dalam periklanan.



LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Promosi dan Iklan
2.1.1 Promosi
  • Menurut Stanton (1993): Promosi adalah kegiatan memberikan informasi kepada konsumen, memengaruhi, dan menghimbau khalayak ramai.
  • Menurut Saladin (2003): Promosi adalah salah satu unsur dalam bauran pemasaran perusahaan yang didayagunakan untuk memberitahukan, mengingatkan, dan membujuk konsumen tentang produk perusahaan.
  • Menurut Swastha (1991): Promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran.
  • Menurut Zimmerer (2002): Promosi adalah segala macam bentuk komunikasi persuasi yang dirancang untuk menginformasikan pelanggan tentang produk atau jasa dan untuk memengaruhi mereka agar membeli barang atau jasa tersebut yang mencakup publisitas, penjualan perorangan dan periklanan.
2.1.2        Iklan atau Periklanan
·         Menurut Schindler (1970:79), periklanan adalah salah satu metode untuk memperkenalkan barang, jasa atau gagasan kepada publik.
·         menurut Frank Jefkins (1997)  iklan adalah pesan yang diarahkan untuk membujuk orang untuk membeli.  Definisi standar dari periklanan  biasanya mengandung enam elemen :
1.      Periklanan adalah bentuk komunikasi yang dibayar, walaupun beberapa bentuk periklanan seperti iklan layanan masyarakat, biasanya menggunakan ruang khusus yang gratis.
2.      Selain pesan yang harus disampaikan harus dibayar, dalam iklan juga terjadi proses identifikasi sponsor. Iklan bukan hanya menampilkan pesan mengenai kehebatan produk yang ditawarkan, tapi juga sekaligus menyampaikan pesan agar konsumen sadar mengenai perusahaan yang memproduksi produk yang ditawarkan.
3.      Upaya membujuk dan mempengaruhi konsumen.
4.      Periklanan memerlukan elemen media massa sebagai media penyampai pesan  kepada audiens sasaran.
5.      Periklanan mempunyai sifat bukan pribadi
6.      Periklanan adalah audiens. Dalam iklan harus jelas ditentukan kelompok konsumen yang jadi sasaran pesan.
·         Menurut Kotler (1999), periklanan adalah segala macam bentuk penyajian dan promosi ide, barang atau jasa non-personal yang dibayar oleh sponsor tertentu.
·         Menurut Rhenald Kasali (1992), iklan didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan untuk masyarakat melalui suatu media. Beda dengan pengumuman biasa iklan lebih membujuk orang untuk membeli.

2.2      Jenis- Jenis Periklanan
Secara garis besar, iklan dapat digolongkan menjadi tujuh kategori pokok, yakni :
1.      Iklan konsumen
Iklan konsumen biasanya berupa iklan barang atau jasa yang dibutuhkan oleh konsumen yang dimuat pada koran, majalah, brosur dan lain-lain. Iklan konsumen ini terdiri atas kebutuhan primer, kebutuhan sekunder dan kebutuhan tersier konsumen.
2.      Iklan antarbisnis
Iklan antarbisnis adalah mempromosikan barang-barang dan jasa non-konsumen. Artinya, baik pemasang maupun sasaran iklan sama-sama perusahaan. Produk yang diiklankan adalah barang antara yang harus diolah atau menjadi unsur prduksi. Termasuk disini adalah periklanan bahan-bahan mentah, komponen suku cadang dan asesoris-asesoris, fasilitas pabrik dan mesin, serta jasa-jasa seperti asuransi, pasokan alat tulis kantor dan lain-lain. Media yang mereka pakai antara lain jurnal-jurnal perdagangan dan teknik, literature dan katalog teknik, pameran-pameran dagang, jasa kiriman pos, serta seminar dan demonstrasi teknik.
3.      Iklan perdagangan
Iklan perdagangan secara khusus ditujukan kepada kalangan distributor, pedagang-pedagang kulakan besar, para agen, eksportir/importir, dan para pedagang besar dan kecil. Barang-barang yang diiklankan itu adalah barang-barang untuk dijual kembali.
4.      Iklan eceran
Iklan ini dibuat dan disebarluaskan oleh pihak pemasok atau perusahaan/pabrik pembuat produk, dan iklan itu biasanya ditempatkan di semua lokasi (toko, gerai penjualan) yang menjual produk kepada para konsumen. Iklan mengenai makanan kaleng bermutu tinggi atau jus minuman yang bermutu sering kita lihat di pasar swalayan itu tidak dibuat oleh pengelola pasar swalayan yang bersangkutan, melainkan oleh perusahaan yang membuat makanan dan minuman kemasan itu. Pihak pasar swalayan yang menjual produk itu sekedar memasang iklannya.
5.      Iklan keuangan
Secara umum bisa dikatakan bahwa iklan keuangan meliputi iklan-iklan untuk bank, jasa tabungan, asuransi dan investasi. Sebagai pelengkap iklan yang ditujukan kepada konsumen atau klien; kadang-kadang disertakan pula laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan, termasuk prospektus-prospektus perusahaan secara lengkap menyongsong penerbitan saham baru, catatan investasidalam bentuk obligasi, serta pemberitahuan mengenai berbagai hal lainnya yang menyangkut keuangan.


6.      Iklan bersama
Istilah iklan bersama atau kerja sama iklan disini khusus mengacu pada iklan eceran, mengingat masih ada dua lagi bentuk kerjasama iklan. Yakni promosi bersama atau joint promotion, misalnya iklan bersama antara roti dan mentega; serta iklan industry atau iklan dagang, di mana sejumlah perusahaan sejenis membuat rancangan iklan bersama seperti yang sering dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pembuat gelas yang disebut juga kerja sama iklan secara horizontal.
7.      Iklan lowongan kerja (rekruitmen)
Iklan jenis ini bertujuan merekrut calon pegawai (seperti anggota polisi, angkatan bersenjata, perusahaan swasta, dan badan-badan umum lainnya) dan bentuknya antara lain iklan kolom yang menjaga kerahasiaan pelamar atau iklan selebaran biasa.

2.3      Sejarah Periklanan di Indonesia
Setelah sejarah periklanan di dunia, kita dapat melihat dampaknya melalui sejarah periklanan yang dialami bangsa kita sendiri. Awal mula pemanfaatan iklan di Hindia Belanda dimulai dari penggunan teknologi percetakan. Percetakan mulai dikenal saat Belanda datang. Tahun 1602 para pedagang besar dan penguasa belanda bergabung dalam organisasi dagang VOC ( Verenigde Nederlandsche Oost-Indische Compagnie). Kesadaran akan pentingnya pers membuat VOC, dan para misionaris mendatangkan percetakan. VOC menggunakannya untuk mencetak peraturan sedangkan misionaris untuk menerbitkan litertur agama dalam bahasa daerah.
Pada tahun 1615 terbit sebuah berkala dengan tulisan tangan, Memorie De Nouvelles. Sejak abad ke-16 Belanda merupakan pusat penulisan silografi (tulisan tangan indah) di Eropa. Tulisan tangan ini dipergunakan oleh Jan Pieterzoon Coen, pendiri Batavia dan Gubernur Jendral Hindia Belanda tahun 1619-1629, untuk mengirim berita kepada pemerintah setempat di Ambon dalam , Memorie De Nouvelles. Tulisan tangan yang indah tersebut ternyata refleksi dari naluri bersaing pemerintah Hindia Belanda dengan Portugis. Coen “menulis” iklan untuk melawan perdagangan portugis. Jan Pieterzoon Coen dianggap sebagai perintis penggunaan iklan di Hindia Belanda.
Isi tulisan Coen berupa kutipan surat-surat, salinan berita surat kabar yang terbit di Eropa, peraturan-peraturan penting, dan sebagainya. Lebih dari satu abad setelah Jan Pieterzoon Coen meninggal, tulisan tangannya diterbitkan kemali di suratkabar bataviasche Nouvelles yang merupakan surat kabar pertama yang diterbitkan pada masa Gubernur Jenderal Gustaaf Willem ‘Baron Van Imhoff pada 8 Agustus 1744. Surat kabar tersebut dapat dikatakan sebagai lembaran iklan, karena sebagian besar yang dimuat adalah iklan perdagangan, pelelangan, dan pengumuman-pengumuman penting pemerintah VOC. Dengan demikian, iklan yang dimuat merupakan iklan pertama di Hindia Belanda. Hal ini menunjukan bahwa surat kabar dan iklan lahir bersamaan, sejak itu pula penerbitan pers bermunculan yang disertai dan disokong dengan iklan.
Bataviasche Nouvelles yang berorientasi pada iklan tersebut tampaknya membuat khawatir dewan direktur VOC. Mereka takut pesaing Eropa akan memanfaatkan informasi tentang kondisi perdagangan di Hindia Belanda, yang hal tersebut bisa mengganggu monopoli VOC. Bataviasche Nouvelles akhirnya berhenti terbit pada 20 Juni 1746 meski baru 2 tahun beroperasi.
Kabutuhan akan media informasi untuk mempublikasikan berita pelelangan yang diselenggarakan VOC sudah tidak terelakan lagi, pada tahun 1776 pemerintah memberi izin L. Dominicus, seorang ahli percetakan di Batavia, untuk menerbitkan sebuah surat kabar. Kemudian lahirlah surat kabar mingguan Het Vendunieuws (berita lelang). Semua pelelangan yang diselenggarakan oleh perusahaan dagang di bawah naungan VOC diiklankan secara gratis di surat kabar tersebut, sementara di luar perusahaan VOC dikenakan biaya.
Pada 31 Desember 1799, VOC secara resmi dialihkan kepada Bataafse Republiek (pemerintahan Belanda di bawah kependudukan Prancis). Het Vendunieuws menghentikan penerbitannya pada 1809. Kemudian Gubernur Jenderal Herman Willemo Daendels menerbitkan Bataviasche Koloniale Courant, yang digunakan untuk menyiarkan semua tindakan pemerintah sejauh yang menyangkut kepentingan umum. Edisi pertama terbit pada 15 Januari 1810.
Kemudian Bataviasche Koloniale Courant tutup persis seminggu sebelum armada Inggris menaklukan Batavia pada 1811. Pada 29 Februari 1812 pemerintah Inggris menerbitkan surat kabar mingguan Java Gouverment Gazette yang dicetak oleh A.H Hubbard. Surat kabar ini berisi tentang perseteruan Inggris dan Belanda, berita-berita dari Eropa, dan berbagai artikel tentang kehidupan dan adat istiadat anak negeri. Inggris berkuasa hingga tahun 1816 selanjutnya Java Gouverment Gazette berganti nama menjadi Bataviasche Courant yang terbit pada 20 Agustus 1816.
Selain di Batavia, ada beberapa surat kabar lainnya yang terbit. Surat kabar minguuan Soerabayasche Courant di Surabaya, yang empat tahun kemudian menjadi surat kabar harian. Di Semarang, E. Herman de Groot menerbitkan surat kabar mingguan Semarangsch Nieuws en Advertentiebald tahun 1845, kemudian berganti nama menjadi De Locomotief dan terbit sebagai harian. De Locomotief merupakan surat kabar yang mempunyai pengaruh yang besar bagi pembaharuan politik kolonial.
Iklan Media Pertama
Pemanfaatan iklan sudah lama dikenal oleh pengelola surat kabar. Surat kabar Bintang Timor (Sumatra) telah menggunkan iklan untuk meluncurkan produknya. Pada penerbitan pertama pada 4 Januari 1865. Selain iklan, bagaimana meraih banyak pelanggan juga tak dikesampingkan oleh para penerbit, tak jarang persaingan sengit sering terjadi antara surat kabar. Contohnya dapat kita lihat antara Biang-Lala dan Mataharie.
Biang-Lala adalah surat kabar mingguan missionaris yang terbit di Batavia pada 1867 dengan menggunakan bahasa Melayu. Biang-Lala sesungguhnya telah menggunakan ilustrasi cukilan kayu, dan menjadikannya koran anak negeri pertama yang bergambar. Biang lala mempunyai citra sebagai alat missionaris, oleh karena itu ia tidak bisa mendapatkan banyak pelanggan.
Keberadaannya kemudian mendapat saingan dari Matahari. Diterbitkan Bruining dan Wijt di Batavia pertengahan 1868, dan dipimpin oleh Henry Tolson. Mataharie mendapat dukungan kuat dari pengiklan di Batavia. Surat kabar ini memuat semua jenis iklan tanpa membebankan biaya apapun untuk menyaingi Biang-Lala.
Surat kabar Bumi putera yang memanfaatkan iklan sebagai penunjang pemasaran adalah Tjabaja Siang. Surat kabar ini terbit bulanan di Minahasa (Sulawesi Utara) tahun 1868. Surat kabar ini berisi tentang orientasi agama Kristen.
Brosur-Brosur Pertama
Pertumbuhan iklan di Hindia Belanda sangat dipengaruhi oleh modal swasta yang masuk ke perkebunan dan pertambangan pada tahun 1870. Javaasche Bank menggunakan barang-barang cetakan untuk mengundang modal asing ke Hindia Belanda. Brosur dan Buklet perkenalan mereka umumnya dicetak di percetakan G.C.T. van Dorp & Co, percetakan komersial pertama di Hindia Belanda yang mempunyai rumah cetak di Jakarta, Semarang, dan Surabaya.
Selain brosur, perusahaan-perusahaan komersial juga menggunakan media periklanan. Untuk menarik perhatian, mulai menggunakan iklan display. Iklan display pertama, menggunakan kekuatan bahasa gambar dalam rancangan desain grafis, adalah iklan pelayaran Nederlandsch-Indische Stoomvart Maarschappij yang dimuat di De Locomotif pada 20 Oktober 1870.
Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI)
Asosiasi perusahaan periklanan yang pertama berdiri di Indonesia pada tahun 1949 dengan nama Bond van Reclame Bureaux in Indonesia atau dalam bahasa Indonesia disebut Persatuan Biro Reklame Indonesia (PBRI). Nama resminya justru yang berbahasa Belanda, karena pada waktu itu sebagian besar pelaku di industri periklanan adalah orang-orang Belanda maupun keturunan Belanda. Demikian juga para pengurusnya adalah orang-orang belanda dan keturunannya.
Baru setelah PBRI diketuai oleh orang Indonesia, Muh.Napis,maka pada tahun 1957 diputuskan perhgantian namanya resmi menjadi PBRI. Dengan nama baru itu juga dilekukan penyesuaian istilah dari “perserikatan” menjadi “persatuan”.
Napis adalah seorang tokoh periklanan Indonesia yang ternyata berhasil memimpin PBRI secara terus-menerus hingga memasuki dasawarsa 1970-an. Napis sendiri ternyata sudah jenuh menjadi Ketua PBRI selama belasan tahun, dan menganggap bahwa situasi seperti itu dapat mengarah kepada hal-hal yang tidak demokratis.
Pada tahun 1971, Napis menyelenggarakan referendum di antara anggota PBRI untuk memilih ketua yang baru, di samping juga meminta usulan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, serta usulan perubahan kebijakan dan strategi. Namun, ternyata referendum itu tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Napis tetap secara aklamasi diterima sebagai ketua PBRI.
Pada tahun 1972, Pemerintah Republik Indonesia tiba-tiba merasa perlu untuk mengatur industri periklanan. Harsono yang ketika itu menjabat sebagai Direktur Jenderal Pembinaan Pers dan Grafika (Dirjen PPG) Departemen penerangan, memprakarsai diselenggarakannya Seminar Periklanan-forum nasional resmi pertama yang diselenggarakan di Indonesia untuk membicarakan arah industri periklanan. Seminar ini diseenggarakan di restoran Geliga, Jalan wahid Hasyim, Jakarta Pusat, dengan ketua penyelenggaraan H.G. Rorimpandey, Ketua Umum Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) yang ketika itu juga Pemimpin Umum Harian Sinar Harapan.
Dalam kesempatan itu pemerintah menyatakan bahwa PBRI adalah satu-satunya wadah perusahaan periklanan yang diakui Pemerintah Republik Indonesia. Pernyataan ini tampaknya didorong oleh kenyataan telah hadirnya berbagai perusahaan periklanan yang disponsori pihak asing, dan tidak merasa berkepentingan untuk menjadi anggota PBRI.
Sekalipun pada tahun 1970 Menteri Perdagangan Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo telah menerbitkan surat keputusan yang melarang kehadiran perusahaan periklanan asing di Indonesia, namun kenyataannya praktik “Ali Baba” tetap menghadirkan banyak negara asing di industri periklanan Indonesia. Pernyataan Pemerintah itu membuat hampir semua perusahaan periklanan yang baru didirikan sekitar 1970-an kemudian mendaftar-kan diri menjadi anggota PBRI.
Seminar periklanan itu juga memuncukan napas dan harapan baru akan munculnya generasi modern periklanan Indonesia. Keinginan untuk berorganisasi secara serius pun mulai tampak hidup. Napis pun semakin berharap bahwa penggantinya akan segera muncul.
Kebetulan, pada tahun 1972 itu juga berlangsung Asian Advertising Congress (AAC) VIII di Bangkok. Masih dengan semangat Seminar Periklanan, beberapa tokoh periklanan Indonesia pun segera berangkat menghadiri kongres tersebut. Mereka antara lain adalah: Christian Wibisono, Ken Sudarto, Sjahrial Djalil, Ernst Katoppo, Abdul Moeid Chandra, Jacoba Muaja, Usamah, dan Yo Wijayakusumah. Tidak tanggung-tanggung, delegasi Indonesia pada waktu itu secara nekat juga menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah AAC IX pada tahun 1974. hebatnya lagi, usulan itu ternyata diterima. Pertumbuhan pesat industri periklanan Indonesia tentulah menjadi faktor pembobot yang menghasilkan keputusan itu.
Semangat untuk menjadi tuan rumah Aac IX itulah yang membuat insan periklanan Indonesia semakin membulatkan tekad untuk berorganisasi secara rapi. Pada tanggal 20 Desember 1972, bertempat di restoran Chez Mario milik Muhammad Napis di jalan Ir. H. Juanda III/23, jakarta Pusat, diselenggarakan Rapat Anggota PBRI. Rapat itu juga dihadiri Direktur Bina Pers dari Direktorat Jenderal Pembinaan Pers dan Grafika Departmen Penerangan, Drs. Tjoek Atmadi. Rapat itu mengagendakan pemilihan pengurus baru, serta membahas kemungkinan dibentuknya sebuah asosiasi periklanan dengan visi dan lingkup yang lebih luas. Abdul Maeid Chandra, seorang putra Madura aktivis PBRI yang memiliki stasiun radio Trinanda Chandra dan perusahaan perilanan dengan nama yang sama, akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum. Di jajaran pengurus tercatat beberapa orang tokoh periklanan Indonesia, seperti: Savrinus Suardi, Usamah, Sjahrial Djalil, dan Yo Wijayakusumah. Mereka adalah muka-muka baru yang sebelumnya bukan merupakan aktivis PBRI.
Rapat Anggota juga menyepakati pembubaran PBRI dan pembentukan asosiasi yang baru dengan nama Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI). Dengan pembentukan PPPI, secara resmi hilang pula istilah ”biri reklame” yang berbau kebelanda-belandaan, digantikan dengan istilah yang lebih sesuai dengan tuntutan zaman: ”perusahaan periklanan”. Desakan untuk mengganti istilah ”biro reklame” juga didasari pada kenyataan bahwa tukang pembuat stempel di pinggir jalan pun menyebut diri mereka sebagai biro reklame. Pada saat didirikan, PPPI beranggotakan 30 perusahaan periklanan. Sahrial Djalil AdForce menyumbangkan logo bagi asosiasi yang baru itu. PPPI juga segera merumuskan Anggaran Dasar serta Anggaran Rumah Tangga yang baru untuk menampung aspirasi periklanan modern.


PEMBAHASAN

3.1 Strategi Promosi dan Periklanan
Elemen ketiga dari bauran pemasaran yakni promosi. Yang termasuk promosi yakni  perikalanan dan personnal selling dan mencakup seluruh komunikasi diantara penjual dan  pelanggan potensial. Promosi dapat diubah sesuai dengan segmen pasar tertentu. Sebagian besar  perusahaan melakukan promosi melalui iklan.
Iklan memiliki dua fungsi dasar yakni : fungsi  pemberi infomasi dan membujuk (Lasher, 1999). Elemen fungsi pemberi infomasi menyediakan informasi mengenai perusahaan serta produk dan jasa perusahaan kepada pelanggan. Sedangkan fungsi membujuk bertujuan untuk meyakinkan orang untuk membeli produk dan jasa  perusahaan. Iklan dengan harga menciptakan image dari perusahaan serta produk dan jasa yang diberikan perusahaan di pikiran pelanggan potensial. Image tersebut dapat positif atau negative, sebagian besar tergantung pemilihan dan penerapan dari iklan yang tepat dan strategi harga oleh UKM.
Seluruh iklan dan aktivitas promosi lainnya harus selaras dengan posisi perusahaan di  pasar. Tidak hanya pada iklan, media lainnya dalam promosi harus didasarkan untuk membangun dan memperkuat posisi perusahaan.
Setiap promosi yang dijalankan sesungguhnya tergantung kepada kemampuan komunikasi yang baik, jika dengan penjelasan yang disampaikan, konsumen mampu mengetahui produk tersebut maka kegiatan promosi berjalan dengan baik.
Dengan promosi yang sudah kita sampaikan, konsumen dapat bereaksi dengan berbagai cara, misalnya dengan menyampaikan pesan kepada konsumen lainnya.
Daftar mengenai alat – alat promosi yang penting yang dapat dipakai untuk membangun suatu program penjuaan efektif, adalah :
·         Iklan
·         Kewiraniagaan (personal selling)
·         Promosi Konsumen (Hadiah, Perlombaan, Penawaran Kombinasi)
·         Metode yang bertujuan merangsang iklan dan promosi dealer.
·         Pameran dan eksibisi
·         Resiporitas
·         Jaminan dan servis
·         Penawaran komperatitif.
Karena banyaknya metode promosi, maka pengalaman menunjukan bahwa tipe produk yang berbeda akan membutuhkan campuran bahan penjualan yag berbeda pula Ini dapat digambarkan dengan membandingkan strategi promosi produk industrial dengan barang konsumen. Hal ini memicu variasi dalam ciri–ciri merek saingan, dan juga perbedaan dalam kebijaksanaan merek, saluran distribusi, dan kebijakan harga, cenderung membutuhkan perbedaan dalam perpaduan promosi untuk tercapainya hasil yang menguntungkan.
Kesimpulannya, hal terpenting promosi dalam strategi pemasaran secara keseluruhan menunjukkan bahwa manajer harus mencurahkan waktu untuk rencananya tertulis dan terus-menerus memantau kinerja rencana tersebut.
Strategi periklanan merupakan satu diantara strategi pemasaran yang paling penting untuk usaha kecil. Iklan merupakan metode promosi yang efektif yang menyediakan informasi mengenai produk dan jasa perusahaan untuk pelanggan potensial, yang mencari tahu dua jenis informasi mengenai produk yang ingin mereka beli.
Pertama, mereka ingin mengetahui mengenai produk dan jasa itu sendiri dan yang kedua adalah bagaimana menggunakan produk atau jasa tersebut. Telah banyak produk ataupun jasa yang memiliki kualitas tinggi yang mengalami kegagalan di pasar karena pelanggan potensial tidak mengetahui produk atau jasa tersebut atau bagaimana cara penggunannya.
Oleh karena itu, strategi periklanan membantu UKM untuk memperkenalkan produk dan jasa mereka secara efektif dan mendorong penjualan  perusahaan. Iklan perlu direncanakan dan diterapkan secara professional. Sebuah strategi  periklanan yang efektif harus mengandung tiga elemen utama yakni tujuan iklan, pemilihan media dan anggaran iklan. Sebelum mendiskusikan ketiga elemen utama tersebut, berikut merupakan definisi dari iklan.

3.2 Periklanan Dalam Sistem Komunikasi Massa
Meskipun periklanan memiliki banyak pengertian pribadi, kita bisa menyetujui semuanya bahwa periklanan lebih banyak digunakan dalam sistem informasi massa di kalangan masyarakat untuk tujuan ekonomi. Baik perorangan atau kelompok, orang ingin menggunakan sistem informasi massa di dalam masyarakat agar bisa memberikan atau memperoleh informasi, dan akhirnya membeli atau menjual berbagai macam barang atau jasa. Sebagai lembaga kemasyarakatan, periklanan telah menjadi sangat kompleks, dan sebagai sistem teknologi komunikasi massa periklanan telah bermanfaat. Perorangan maupun kelompok semakin sering menggunakan komunikasi massa untuk tujuan ekonomi, misalnya untuk jual-beli barang, pelayanan (servis) kepada public, jual beli gagasan atau jasa. Sungguh peningkatan manfaat yang mengejutkan.
Di dalam masyarakat modern, hampir tidak ada orang yang tidak disibukkan oleh kegiatan periklanan. Ibu rumah tangga ingin mengetahui harga sayuran di pasat, sementara suaminya ingin mengetahui di mana saja pedagang (dealer) mobil yang mengadakan penawaran termurah. Pda remaja putri ingin tahu apakah mode pakaian yang terbaru telah dimuat dalam majalah yang tersediadi toko-toko buku terdekat. Sementara membaca majalah teknik, sepintas lalu mata manajer penjualan barang-barang industry menangkap sebuah model barang yang sangat indah; pikirnya pun mencatat bahwa majalah itu mengumumkan banyak piringan hitam dan CD (Compact Disk) yang pertama bebas error. Pada distributor besi baja membaca-baca majalah di rumah, dan iklan peralatan kantor membuatnya ingin tahu bagaimana kalau dia ingin menambah sedikit sentuhan pada kantornya yang baru.
Dosen muda yang cerdas telah ditugaskan pada universitas yang berbeda wilayah, dan meskipun dia menyalahkan iklan sebagai pemanipulasi, dia langsung mempersiapkan iklan klasifikasi untuk menjual rumahnya, jadi tidak menggunakan pelayanan para agen real estate. Mungkin dia belajar, tentunya betapa banyak waktu, kecakapan, dan pengetahuan diperlukan, namun bagi para penelepon, rupanya iklannya itu menyesatkan. Sebuah masjid ingin mengontrak sebuah khatib baru atau ingin mengganti perlengkapan sound systemnya, sebuah bengkel kendaraan ingin memperkenalkan pelayanan yang bisa diperoleh di bengkel tersebut, politikus ingin menambah simpati public atau masyarakat umumnya, dan sebagainya, semuanya tidak terlepas dari keterlibatannya dalam kegiatan periklanan.
Contoh-contoh tersebut membantu kita untuk mewujudkan dan memahami betapa penting adanaya suatu lembaga atau institusi yang memadukan segala komponen dan mekanik yang terlibat dalam kegiatan periklanan. Sebab, iklan digunakan oleh setiap orang, tidak hanya oleh penjual barang-barang konsumtif saja. Lebih luas lagi, periklanan pada hakikatnya berkaitan dengan sistem informasi massa dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan teknologi. Satu sama lain berinteraksi menggunakan sistem informasi dimaksud dan menyebarkan semua masalah yang terkait dengan sistem tersebut, termasuk masalah keagamaan.

3.3 Keputusan Penting dalam Periklanan
Manajemen pemasaran harus membuat lima keputusan penting sewaktu mengembangkan program periklanan.
a.       Menetapkan tujuan
Langkah pertama dalam pengembangan program periklanan adalah menetapkan tujuan periklanan. Tujuan periklanan harus dilandaskan pada keputusan-keputusan terdahulu mengenai pasar sasaran. Positioning, dan bauran pemasaran, yang nantinya akan menentukan tugas harus dilakukan periklanan dengan program pemasaran keseluruhan.
Tujuan periklanan adalah tugas komunikasi tertentu yang harus dilakukan dengan audiens sasaran tertentu selama periode waktu tertentu. Tujuan periklanan dapat digolongkan menurut keperluan utamanya apakah memberi informasi, membujuk, atau mengingatkan.
Priklanan informatif digunakan habis-habisan pada saat suatu kategori produk yang baru mulai diperkenalkan.
b.      Menetapkan Anggaran Periklanan
Setelah menentukan tujuan periklanannya perusahaan menetapkan anggaran periklanan untuk setiap produk. Berikut ini adalah beberapa faktor spesifik yang harus dipertimbangkan pada waktu menetapkan anggaran periklanan:
·         Tahapan di dalam daur hidup produk
·         Pangsa pasar
·         Persaingan dan kesempatan
·         Frekuensi periklanan
·         Diferensiasi produk
c.       Strategi iklan
Strategi iklan terdiri dari dua elemen utama: penciptaan pesan iklan dan penyelesaian media iklan. Di masa lalu, kebanyakan perusahaan mengembangkan rencana untuk pesan dan media secara terpisah. Rencana media sering dipandang kurang penting ketimbang proses penciptaan pesan. Departemen kreatif mula-mula menciptakan iklan yang baik; kemudian departemen media memilih media terbaik untuk menyampaikan iklan ini kepada audiens sasaran yang diinginkan. Ini sering kali menyebabkan fiksi antara tim kreatif tim media.
·         Menciptakan pesan iklan
Anggaran iklan yang besar tidak menjamin berhasilnya suatu kampanye iklan. Dua pemasang iklan bisa saja mengeluarkan biaya yang sama besar, tetapi hasilnya bisa jauh berbeda. Betapapun besarnya anggaran, iklan akan berhasil jika siaran iklan tersebut dapat menarik perhatian dan mengkomunikasikannya dengan baik.


·         Menyeleksi media iklan
Langkah utama dalam menyeleksi media adalah (1) menentukan jangkauan, frekuensi, dan dampak; (2) memilih tipe media utama; (3) menyeleksi wahana media tertentu; dan (4) menentukan waktu penanyangan.
d.      Evaluasi iklan
Program periklanan harus secara teratur mengevaluasi efek komunikasi dan efek penjualan dari sebuah iklan. Mengukur efek komunikasi pada sebuah iklan-uji pesan (copy testing) mengungkapkan apakah iklan tersebut mampu menyampaikan pesannya dengan baik. Uji pesan dapat dilakukan sebelum atau sesudah sebuah iklan dicetak atau disiarkan. Sebelum iklan ditempatkan, sang pengiklan dapat menunjukkan kepada konsumen, menanyakan bagaimana mereka menyukainya, dan mengukur ingatan atau perubahan sikap yang dihasilkannya. Sesudah sebuah iklan disebarluaskan, pengiklan dapat mengukur bagaimana iklan mempengaruhi memory atau kesadaran produk, pengetahuan dan preferensi konsumen.
Efek penjualan dari iklan sering kali lebih sukar untuk diukur ketimbang efek komunikasinya. Penjualan oleh banyak faktor di luar periklanan. Kita juga harus memperhitungkan fitur, harga, dan ketersediaan produk. Satu cara untuk mengukur efek penjualan dari iklan adalah dengan membandingkan penjualan di masa lampau dengan pengeluaran iklan di masa lampau. Cara lainnya adalah dengan menggunakan dengan eksperimen. Sebagai contoh, untuk menguji efek dari tingkat pengeluaran iklan yang berbeda, Pizza Hut dapat memvariasikan jumlah yang dihabiskan pada periklanan di area pemasaran yang berbeda dan mengukur perbedaan dalam tingkat pemasaran yang dihasilkannya.
e.       Mengorganisasikan periklanan
Setiap perusahaan mengorganisasikan periklanannya dengan cara mereka masing-masing. Dalam perusahaan kecil, periklanan dapat ditangani oleh seseorang dari departemen penjualan. Perusahaan membuat departemen periklanan sendiri, yang tugasnya adalah menentukan anggaran periklanan, bekerja sama dengan agen pemasang iklan dan menangani periklanan lewat pos, peragaan pengedar, dan kiat-kiat periklanan lainnya yang tidak dilakukan oleh agen. Kebanyakan perusahaan besar menggunakan agen pemasang iklan dari luar karena hal itu memiliki beberapa keuntungan.
f.       Keputusan periklanan internasional
Pemasang iklan internasional banyak kompleksitas yang tidak dijumpai pada pemasang iklan domestic. Isu yang paling mendasar mencakup tingkat sampai dimana suatu iklan global harus diadaptasi dengan karakteristik unik berbagai pasar negara. Beberapa pemasang iklan besar telah mencoba untuk mendukung merek global mereka dengan periklanan seluruh dunia yang sangat tinggi standarnya. Kampanye yang berjalan di Bangkok sama baiknya dengan yang mereka jalankan di Baltimore. Sebagai contoh, Jeep telah menciptakan citra merek mengenai kekokohan dan kehandalan; pepsi menggunakan cita rasa terstandardisasi untuk membidik anak muda di seluruh pelosok dunia, Nike mendorong orang Amerika, Afrika, Asia dan Eropa untuk mengatakan “saya mampu”. Standardisasi menghasilkan banyak manfaat biaya iklan yang lebih rendah, koordinasi periklanan global yang lebih besar, dan citra yang lebih konsisten di seluruh dunia.standardisasi juga memiliki kerugian. Kerugian ynag terbesar adalah bahwa standardisasi mengabaikan fakta adanya perbedaan ynag sangat besar dalam hal kultur, demografi, dan ekonomi di berbagai pasar negara.

3.4 Media Periklanan
Media periklanan adalah segala sarana komunikasi yang dipakaiuntuk mengantarkan dan menyebar luaskan pesan – pesan iklan. Pada prinsipnya, jenis mediaiklan dalam bentuk fisik dibagi kedalam dua kategori yaitu media iklan cetak dan media iklanelektronik.Media cetak adalah media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual yang dihasilkan dari proses percetakan; bahan baku dasarnya maupun sarana penyampaian pesannya menggunakan kertas.
Media cetak adalah suatu dokumen atas segala hal tentang rekaman peristiwa yangdiubah dalam kata-kata, gambar foto dan sebagainya (contoh : surat kabar, majalah, tabloid, brosur, pamflet, poster.Sedangkan media elektronik adalah media yang proses bekerjanya berdasar pada prinsipelektronik dan eletromagnetis (contoh televisi, radio, internet).Diantara dikotomi media tersebut ada satu media yang tidak termasuk dalam kategorikeduanya yaitu media luar ruang (papan iklan atau billboard)
Jika dilihat dari pekerjaan kreatifnya maka media iklan terbagi dua jenis yaitu:
a)  Media lini atas (above the line): media utama yang digunakan dalam kegiatan periklanan, contoh ; televisi, radio, majalah,surat kabar. 
b)  Media lini bawah (below the line) ; media pendukung dalam kegiatan periklanan,contoh : pamflet, brosur dan poster.


KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Promosi dan periklanan merupakan unsur yang termasuk ke dalam bauran pemasaran yang mana promosi sebagai sarananya dan iklan sebagai alat untuk mempromosikan barang/jasa yang ditawarkan kepada konsumen. Promosi dan periklanan masing-masing memiliki strategi yang saling berkaitan atau berhubungan satu sama lain. Promosi dapat diubah sesuai dengan segmen pasar tertentu dan sebagian besar  perusahaan melakukan promosi melalui iklan.
Adapun beberapa alat yang digunakan dalam promosi yaitu Iklan, Kewiraniagaan (personal selling), Promosi Konsumen (Hadiah, Perlombaan, Penawaran Kombinasi), Metode yang bertujuan merangsang iklan dan promosi dealer, Pameran dan eksibisi, Resiporitas, Jaminan dan servis, Penawaran komperatitif.
Seperti yang kita ketahui bahwa iklan itu dimuat dan disiarkan di media massa yaitu koran, majalah, televisi, radio dan lain-lain. Meskipun periklanan lebih banyak digunakan dalam sistem informasi massa di kalangan masyarakat untuk tujuan ekonomi. Baik perorangan atau kelompok, orang ingin menggunakan sistem informasi massa di dalam masyarakat agar bisa memberikan atau memperoleh informasi, dan akhirnya membeli atau menjual berbagai macam barang atau jasa. Sebagai lembaga kemasyarakatan, periklanan telah menjadi sangat kompleks, dan sebagai sistem teknologi komunikasi massa periklanan telah bermanfaat.
Dalam periklanan harus mengambil keputusan penting sebelum menerbitkan iklan tersebut. Adapu keputusan penting dalam periklanan antara lain menetapkan tujuan, menetapkan anggaran, strategi iklan, evaluasi iklan, mengorganisasikan periklanan dan keputusan periklanan internasional.
Periklanan tidaklah dapat berjalan dengan baik dan lancar, bila tidak ada media yang menyampaikan informasi kepada orang yang berada di tempat yang jauh untuk mempromosikan barang/jasa yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan. Berikut ini media periklanan: (1) Media lini atas (above the line): media utama yang digunakan dalam kegiatan periklanan, contoh ; televisi, radio, majalah,surat kabar. (2) Media lini bawah (below the line) ; media pendukung dalam kegiatan periklanan,contoh : pamflet, brosur dan poster. Maka dari itu media periklanan sangat dibutuhkan sebagai perantara untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat luas.

4.2 Saran
Saran dari kelompok kami semoga perusahaan dapat mengiklankan barang atau jasa yang ditawarkan dengan jujur tanpa harus ada unsur penipuan baik dalam komunikasi verbal maupun non verbal demi untuk membujuk dan merayu konsumen agar membeli barang atau jasa yang diiklankan.
Semoga lembaga pemerintah/periklanan dapat lebih selektif lagi dalam memilih iklan mana saja yang pantas untuk ditampilkan di tempat umum yang tidak dapat merugikan banyak pihak apabila melihatnya.



DAFTAR PUSTAKA

Winarno, Bondan. 2008. Rumah Iklan. Jakarta: PT. Gramedia.
Rangkuti, Freddy. 2009. Strategi Promosi yang Kreatif dan Analisis Kasus Integrated Marketing. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Jefkins, Frank. 1996. Periklanan, Ahli Bahasa Munandar Haris. Jakarta: Erlangga
Suhandang, Kustadi. 2010. Periklanan: Manajemen, Kiat dan Strategi. Bandung: Nuansa
Sunarto, SE, MM. 2004. Prinsip-prinsip Pemasaran. Yogyakarta: AMUS Yogyakarta & UST Press.













0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar