PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam
era globalisasi perkembangan pesat terjadi pada hampir semua sektor dan
berbagai perubahan sering mewarnai bahkan ada pepatah yang mengatakan sesuatu
yang pasti di dunia ini adalah perubahan. Kemajuan pada berbagai bidang seperti
ilmu pengetahuan, telekomunikasi, teknologi informasi, jaringan transportasi
dan sektor-sektor kehidupan lainnya, mengakibatkan arus informasi semakin mudah
dan lancar mengalir kepada setiap individu dan kelompok yang membutuhkannya.
Melalui
kemajuan ini memudahkan perusahaan/organisasi untuk melakukan promosi produk
mereka kepada khalayak ramai melalui iklan baik iklan yang ada di televisi,
iklan yang ada di jalan raya maupun iklan yang kita dengar melalui radio serta
iklan yang dapat kita lihat pada situs web. Yang mana periklanan merupakan
salah satu unsur dalam komunikasi pemasaran.
Dalam
promosi dibutuhkan komunikasi yang efektif yang mana komunikasi yang efektif
sangat membantu untuk memperjelas atau memperinci produk yang perusahaan kita
produksi. Bukan hanya komunikasi efektif saja tapi dalam promosi juga digunakan
komunikasi persuasif untuk membujuk dan mengajak konsumen untuk
membeli/menggunakan produk yang kita jual/produksi.
Oleh
sebab itu, orang yang terlibat dalam promosi tersebut harus memiliki kecakapan
dalam berkomunikasi serta dapat merayu dan membuju orang lain untuk dapat
membeli produk tersebut. Dengan demikian konsumen akan membeli produk yang
perusahaan kita produksi/hasilkan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana
strategi promosi dan periklanan?
2. Bagaimana
periklanan dalam sistem komunikasi massa?
3. Apa
saja keputusan penting dalam periklanan?
4. Apa
saja media periklanan?
1.3 Tujuan
1. Untuk
mengetahui bagaimana strategi promosi dan periklanan.
2. Untuk
mengetahui periklanan dalam sistem komunikasi massa.
3. Untuk
mengetahui keputusan penting dalam periklanan.
4. Untuk
mengetahui media yang digunakan dalam periklanan.
LANDASAN TEORI
2.1
Definisi Promosi dan Iklan
2.1.1
Promosi
- Menurut Stanton (1993): Promosi adalah kegiatan memberikan informasi kepada konsumen, memengaruhi, dan menghimbau khalayak ramai.
- Menurut Saladin (2003): Promosi adalah salah satu unsur dalam bauran pemasaran perusahaan yang didayagunakan untuk memberitahukan, mengingatkan, dan membujuk konsumen tentang produk perusahaan.
- Menurut Swastha (1991): Promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran.
- Menurut Zimmerer (2002): Promosi adalah segala macam bentuk komunikasi persuasi yang dirancang untuk menginformasikan pelanggan tentang produk atau jasa dan untuk memengaruhi mereka agar membeli barang atau jasa tersebut yang mencakup publisitas, penjualan perorangan dan periklanan.
2.1.2
Iklan atau Periklanan
·
Menurut
Schindler (1970:79), periklanan adalah salah satu metode untuk memperkenalkan
barang, jasa atau gagasan kepada publik.
·
menurut Frank Jefkins (1997) iklan
adalah pesan yang diarahkan untuk membujuk orang untuk membeli.
Definisi standar dari periklanan biasanya mengandung enam elemen :
1. Periklanan adalah bentuk komunikasi
yang dibayar, walaupun beberapa bentuk periklanan seperti iklan layanan
masyarakat, biasanya menggunakan ruang khusus yang gratis.
2. Selain pesan yang harus disampaikan
harus dibayar, dalam iklan juga terjadi proses identifikasi sponsor. Iklan
bukan hanya menampilkan pesan mengenai kehebatan produk yang ditawarkan, tapi
juga sekaligus menyampaikan pesan agar konsumen sadar mengenai perusahaan yang
memproduksi produk yang ditawarkan.
3. Upaya membujuk dan mempengaruhi
konsumen.
4. Periklanan memerlukan elemen media
massa sebagai media penyampai pesan kepada audiens sasaran.
5. Periklanan mempunyai sifat bukan
pribadi
6. Periklanan adalah audiens. Dalam
iklan harus jelas ditentukan kelompok konsumen yang jadi sasaran pesan.
·
Menurut
Kotler (1999), periklanan adalah segala macam bentuk penyajian dan promosi ide,
barang atau jasa non-personal yang dibayar oleh sponsor tertentu.
·
Menurut
Rhenald Kasali (1992), iklan didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan suatu
produk yang ditujukan untuk masyarakat melalui suatu media. Beda dengan
pengumuman biasa iklan lebih membujuk orang untuk membeli.
2.2
Jenis- Jenis Periklanan
Secara garis besar, iklan dapat digolongkan menjadi tujuh
kategori pokok, yakni :
1.
Iklan
konsumen
Iklan konsumen biasanya berupa iklan
barang atau jasa yang dibutuhkan oleh konsumen yang dimuat pada koran, majalah,
brosur dan lain-lain. Iklan konsumen ini terdiri atas kebutuhan primer,
kebutuhan sekunder dan kebutuhan tersier konsumen.
2.
Iklan
antarbisnis
Iklan antarbisnis adalah
mempromosikan barang-barang dan jasa non-konsumen. Artinya, baik pemasang
maupun sasaran iklan sama-sama perusahaan. Produk yang diiklankan adalah barang
antara yang harus diolah atau menjadi unsur prduksi. Termasuk disini adalah
periklanan bahan-bahan mentah, komponen suku cadang dan asesoris-asesoris,
fasilitas pabrik dan mesin, serta jasa-jasa seperti asuransi, pasokan alat
tulis kantor dan lain-lain. Media yang mereka pakai antara lain jurnal-jurnal
perdagangan dan teknik, literature dan katalog teknik, pameran-pameran dagang,
jasa kiriman pos, serta seminar dan demonstrasi teknik.
3.
Iklan
perdagangan
Iklan perdagangan secara khusus
ditujukan kepada kalangan distributor, pedagang-pedagang kulakan besar, para
agen, eksportir/importir, dan para pedagang besar dan kecil. Barang-barang yang
diiklankan itu adalah barang-barang untuk dijual kembali.
4.
Iklan
eceran
Iklan ini dibuat dan disebarluaskan
oleh pihak pemasok atau perusahaan/pabrik pembuat produk, dan iklan itu
biasanya ditempatkan di semua lokasi (toko, gerai penjualan) yang menjual produk
kepada para konsumen. Iklan mengenai makanan kaleng bermutu tinggi atau jus
minuman yang bermutu sering kita lihat di pasar swalayan itu tidak dibuat oleh
pengelola pasar swalayan yang bersangkutan, melainkan oleh perusahaan yang
membuat makanan dan minuman kemasan itu. Pihak pasar swalayan yang menjual
produk itu sekedar memasang iklannya.
5.
Iklan
keuangan
Secara umum bisa dikatakan bahwa
iklan keuangan meliputi iklan-iklan untuk bank, jasa tabungan, asuransi dan
investasi. Sebagai pelengkap iklan yang ditujukan kepada konsumen atau klien;
kadang-kadang disertakan pula laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan,
termasuk prospektus-prospektus perusahaan secara lengkap menyongsong penerbitan
saham baru, catatan investasidalam bentuk obligasi, serta pemberitahuan
mengenai berbagai hal lainnya yang menyangkut keuangan.
6.
Iklan
bersama
Istilah iklan bersama atau kerja
sama iklan disini khusus mengacu pada iklan eceran, mengingat masih ada dua
lagi bentuk kerjasama iklan. Yakni promosi bersama atau joint promotion,
misalnya iklan bersama antara roti dan mentega; serta iklan industry atau iklan
dagang, di mana sejumlah perusahaan sejenis membuat rancangan iklan bersama
seperti yang sering dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pembuat gelas yang
disebut juga kerja sama iklan secara horizontal.
7.
Iklan
lowongan kerja (rekruitmen)
Iklan jenis ini bertujuan merekrut
calon pegawai (seperti anggota polisi, angkatan bersenjata, perusahaan swasta,
dan badan-badan umum lainnya) dan bentuknya antara lain iklan kolom yang menjaga
kerahasiaan pelamar atau iklan selebaran biasa.
2.3
Sejarah Periklanan di Indonesia
Setelah sejarah periklanan di dunia, kita dapat melihat
dampaknya melalui sejarah periklanan yang dialami bangsa kita sendiri. Awal
mula pemanfaatan iklan di Hindia Belanda dimulai dari penggunan teknologi
percetakan. Percetakan mulai dikenal saat Belanda datang. Tahun 1602 para
pedagang besar dan penguasa belanda bergabung dalam organisasi dagang VOC (
Verenigde Nederlandsche Oost-Indische Compagnie). Kesadaran akan pentingnya
pers membuat VOC, dan para misionaris mendatangkan percetakan. VOC
menggunakannya untuk mencetak peraturan sedangkan misionaris untuk menerbitkan
litertur agama dalam bahasa daerah.
Pada tahun 1615 terbit sebuah berkala dengan tulisan tangan,
Memorie De Nouvelles. Sejak abad ke-16 Belanda merupakan pusat penulisan
silografi (tulisan tangan indah) di Eropa. Tulisan tangan ini dipergunakan oleh
Jan Pieterzoon Coen, pendiri Batavia dan Gubernur Jendral Hindia Belanda tahun
1619-1629, untuk mengirim berita kepada pemerintah setempat di Ambon dalam ,
Memorie De Nouvelles. Tulisan tangan yang indah tersebut ternyata refleksi
dari naluri bersaing pemerintah Hindia Belanda dengan Portugis. Coen “menulis”
iklan untuk melawan perdagangan portugis. Jan Pieterzoon Coen dianggap sebagai
perintis penggunaan iklan di Hindia Belanda.
Isi tulisan Coen berupa kutipan surat-surat, salinan berita
surat kabar yang terbit di Eropa, peraturan-peraturan penting, dan sebagainya.
Lebih dari satu abad setelah Jan Pieterzoon Coen meninggal, tulisan tangannya
diterbitkan kemali di suratkabar bataviasche Nouvelles yang merupakan
surat kabar pertama yang diterbitkan pada masa Gubernur Jenderal Gustaaf Willem
‘Baron Van Imhoff pada 8 Agustus 1744. Surat kabar tersebut dapat dikatakan
sebagai lembaran iklan, karena sebagian besar yang dimuat adalah iklan
perdagangan, pelelangan, dan pengumuman-pengumuman penting pemerintah VOC.
Dengan demikian, iklan yang dimuat merupakan iklan pertama di Hindia Belanda.
Hal ini menunjukan bahwa surat kabar dan iklan lahir bersamaan, sejak itu pula
penerbitan pers bermunculan yang disertai dan disokong dengan iklan.
Bataviasche Nouvelles yang berorientasi pada iklan tersebut
tampaknya membuat khawatir dewan direktur VOC. Mereka takut pesaing Eropa akan
memanfaatkan informasi tentang kondisi perdagangan di Hindia Belanda, yang hal
tersebut bisa mengganggu monopoli VOC. Bataviasche Nouvelles akhirnya berhenti
terbit pada 20 Juni 1746 meski baru 2 tahun beroperasi.
Kabutuhan akan media informasi untuk mempublikasikan berita
pelelangan yang diselenggarakan VOC sudah tidak terelakan lagi, pada tahun 1776
pemerintah memberi izin L. Dominicus, seorang ahli percetakan di Batavia, untuk
menerbitkan sebuah surat kabar. Kemudian lahirlah surat kabar mingguan Het
Vendunieuws (berita lelang). Semua pelelangan yang diselenggarakan oleh
perusahaan dagang di bawah naungan VOC diiklankan secara gratis di surat kabar
tersebut, sementara di luar perusahaan VOC dikenakan biaya.
Pada 31 Desember 1799, VOC secara resmi dialihkan kepada
Bataafse Republiek (pemerintahan Belanda di bawah kependudukan Prancis). Het
Vendunieuws menghentikan penerbitannya pada 1809. Kemudian Gubernur Jenderal
Herman Willemo Daendels menerbitkan Bataviasche Koloniale Courant, yang
digunakan untuk menyiarkan semua tindakan pemerintah sejauh yang menyangkut
kepentingan umum. Edisi pertama terbit pada 15 Januari 1810.
Kemudian Bataviasche Koloniale Courant tutup persis
seminggu sebelum armada Inggris menaklukan Batavia pada 1811. Pada 29 Februari
1812 pemerintah Inggris menerbitkan surat kabar mingguan Java Gouverment
Gazette yang dicetak oleh A.H Hubbard. Surat kabar ini berisi tentang
perseteruan Inggris dan Belanda, berita-berita dari Eropa, dan berbagai artikel
tentang kehidupan dan adat istiadat anak negeri. Inggris berkuasa hingga tahun
1816 selanjutnya Java Gouverment Gazette berganti nama menjadi Bataviasche
Courant yang terbit pada 20 Agustus 1816.
Selain di Batavia, ada beberapa surat kabar lainnya yang
terbit. Surat kabar minguuan Soerabayasche Courant di Surabaya, yang empat
tahun kemudian menjadi surat kabar harian. Di Semarang, E. Herman de Groot
menerbitkan surat kabar mingguan Semarangsch Nieuws en Advertentiebald tahun
1845, kemudian berganti nama menjadi De Locomotief dan terbit sebagai harian.
De Locomotief merupakan surat kabar yang mempunyai pengaruh yang besar bagi
pembaharuan politik kolonial.
Iklan
Media Pertama
Pemanfaatan iklan sudah lama dikenal oleh pengelola surat
kabar. Surat kabar Bintang Timor (Sumatra) telah menggunkan iklan untuk
meluncurkan produknya. Pada penerbitan pertama pada 4 Januari 1865. Selain
iklan, bagaimana meraih banyak pelanggan juga tak dikesampingkan oleh para
penerbit, tak jarang persaingan sengit sering terjadi antara surat kabar.
Contohnya dapat kita lihat antara Biang-Lala dan Mataharie.
Biang-Lala adalah surat kabar mingguan missionaris yang
terbit di Batavia pada 1867 dengan menggunakan bahasa Melayu. Biang-Lala
sesungguhnya telah menggunakan ilustrasi cukilan kayu, dan menjadikannya koran
anak negeri pertama yang bergambar. Biang lala mempunyai citra sebagai alat
missionaris, oleh karena itu ia tidak bisa mendapatkan banyak pelanggan.
Keberadaannya kemudian mendapat saingan dari Matahari.
Diterbitkan Bruining dan Wijt di Batavia pertengahan 1868, dan dipimpin oleh
Henry Tolson. Mataharie mendapat dukungan kuat dari pengiklan di Batavia. Surat
kabar ini memuat semua jenis iklan tanpa membebankan biaya apapun untuk
menyaingi Biang-Lala.
Surat kabar Bumi putera yang memanfaatkan iklan sebagai
penunjang pemasaran adalah Tjabaja Siang. Surat kabar ini terbit bulanan di
Minahasa (Sulawesi Utara) tahun 1868. Surat kabar ini berisi tentang orientasi
agama Kristen.
Brosur-Brosur
Pertama
Pertumbuhan iklan di Hindia Belanda sangat dipengaruhi oleh
modal swasta yang masuk ke perkebunan dan pertambangan pada tahun 1870.
Javaasche Bank menggunakan barang-barang cetakan untuk mengundang modal asing
ke Hindia Belanda. Brosur dan Buklet perkenalan mereka umumnya dicetak di
percetakan G.C.T. van Dorp & Co, percetakan komersial pertama di Hindia
Belanda yang mempunyai rumah cetak di Jakarta, Semarang, dan Surabaya.
Selain brosur, perusahaan-perusahaan komersial juga
menggunakan media periklanan. Untuk menarik perhatian, mulai menggunakan iklan
display. Iklan display pertama, menggunakan kekuatan bahasa gambar dalam
rancangan desain grafis, adalah iklan pelayaran Nederlandsch-Indische Stoomvart
Maarschappij yang dimuat di De Locomotif pada 20 Oktober 1870.
Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI)
Asosiasi perusahaan periklanan yang pertama berdiri di
Indonesia pada tahun 1949 dengan nama Bond van Reclame Bureaux in Indonesia
atau dalam bahasa Indonesia disebut Persatuan Biro Reklame Indonesia (PBRI).
Nama resminya justru yang berbahasa Belanda, karena pada waktu itu sebagian
besar pelaku di industri periklanan adalah orang-orang Belanda maupun keturunan
Belanda. Demikian juga para pengurusnya adalah orang-orang belanda dan
keturunannya.
Baru setelah PBRI diketuai oleh orang Indonesia,
Muh.Napis,maka pada tahun 1957 diputuskan perhgantian namanya resmi menjadi
PBRI. Dengan nama baru itu juga dilekukan penyesuaian istilah dari
“perserikatan” menjadi “persatuan”.
Napis adalah seorang tokoh periklanan Indonesia yang
ternyata berhasil memimpin PBRI secara terus-menerus hingga memasuki dasawarsa
1970-an. Napis sendiri ternyata sudah jenuh menjadi Ketua PBRI selama belasan
tahun, dan menganggap bahwa situasi seperti itu dapat mengarah kepada hal-hal
yang tidak demokratis.
Pada tahun 1971, Napis menyelenggarakan referendum di antara
anggota PBRI untuk memilih ketua yang baru, di samping juga meminta usulan
perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, serta usulan perubahan
kebijakan dan strategi. Namun, ternyata referendum itu tidak membuahkan hasil
yang diharapkan. Napis tetap secara aklamasi diterima sebagai ketua PBRI.
Pada tahun 1972, Pemerintah Republik Indonesia tiba-tiba
merasa perlu untuk mengatur industri periklanan. Harsono yang ketika itu
menjabat sebagai Direktur Jenderal Pembinaan Pers dan Grafika (Dirjen PPG)
Departemen penerangan, memprakarsai diselenggarakannya Seminar Periklanan-forum
nasional resmi pertama yang diselenggarakan di Indonesia untuk membicarakan
arah industri periklanan. Seminar ini diseenggarakan di restoran Geliga, Jalan
wahid Hasyim, Jakarta Pusat, dengan ketua penyelenggaraan H.G. Rorimpandey,
Ketua Umum Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) yang ketika itu juga Pemimpin Umum
Harian Sinar Harapan.
Dalam kesempatan itu pemerintah menyatakan bahwa PBRI adalah
satu-satunya wadah perusahaan periklanan yang diakui Pemerintah Republik
Indonesia. Pernyataan ini tampaknya didorong oleh kenyataan telah hadirnya
berbagai perusahaan periklanan yang disponsori pihak asing, dan tidak merasa
berkepentingan untuk menjadi anggota PBRI.
Sekalipun pada tahun 1970 Menteri Perdagangan Prof. Dr.
Sumitro Djojohadikusumo telah menerbitkan surat keputusan yang melarang
kehadiran perusahaan periklanan asing di Indonesia, namun kenyataannya praktik
“Ali Baba” tetap menghadirkan banyak negara asing di industri periklanan
Indonesia. Pernyataan Pemerintah itu membuat hampir semua perusahaan periklanan
yang baru didirikan sekitar 1970-an kemudian mendaftar-kan diri menjadi anggota
PBRI.
Seminar
periklanan itu juga memuncukan napas dan harapan baru akan munculnya generasi
modern periklanan Indonesia. Keinginan untuk berorganisasi secara serius pun
mulai tampak hidup. Napis pun semakin berharap bahwa penggantinya akan segera
muncul.
Kebetulan,
pada tahun 1972 itu juga berlangsung Asian Advertising Congress (AAC) VIII di
Bangkok. Masih dengan semangat Seminar Periklanan, beberapa tokoh periklanan
Indonesia pun segera berangkat menghadiri kongres tersebut. Mereka antara lain
adalah: Christian Wibisono, Ken Sudarto, Sjahrial Djalil, Ernst Katoppo, Abdul
Moeid Chandra, Jacoba Muaja, Usamah, dan Yo Wijayakusumah. Tidak
tanggung-tanggung, delegasi Indonesia pada waktu itu secara nekat juga
menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah AAC IX pada tahun 1974. hebatnya lagi,
usulan itu ternyata diterima. Pertumbuhan pesat industri periklanan Indonesia
tentulah menjadi faktor pembobot yang menghasilkan keputusan itu.
Semangat
untuk menjadi tuan rumah Aac IX itulah yang membuat insan periklanan Indonesia
semakin membulatkan tekad untuk berorganisasi secara rapi. Pada tanggal 20
Desember 1972, bertempat di restoran Chez Mario milik Muhammad Napis di jalan
Ir. H. Juanda III/23, jakarta Pusat, diselenggarakan Rapat Anggota PBRI. Rapat
itu juga dihadiri Direktur Bina Pers dari Direktorat Jenderal Pembinaan Pers
dan Grafika Departmen Penerangan, Drs. Tjoek Atmadi. Rapat itu mengagendakan
pemilihan pengurus baru, serta membahas kemungkinan dibentuknya sebuah asosiasi
periklanan dengan visi dan lingkup yang lebih luas. Abdul Maeid Chandra,
seorang putra Madura aktivis PBRI yang memiliki stasiun radio Trinanda Chandra
dan perusahaan perilanan dengan nama yang sama, akhirnya terpilih sebagai Ketua
Umum. Di jajaran pengurus tercatat beberapa orang tokoh periklanan Indonesia,
seperti: Savrinus Suardi, Usamah, Sjahrial Djalil, dan Yo Wijayakusumah. Mereka
adalah muka-muka baru yang sebelumnya bukan merupakan aktivis PBRI.
Rapat
Anggota juga menyepakati pembubaran PBRI dan pembentukan asosiasi yang baru
dengan nama Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI). Dengan
pembentukan PPPI, secara resmi hilang pula istilah ”biri reklame” yang berbau
kebelanda-belandaan, digantikan dengan istilah yang lebih sesuai dengan
tuntutan zaman: ”perusahaan periklanan”. Desakan untuk mengganti istilah ”biro
reklame” juga didasari pada kenyataan bahwa tukang pembuat stempel di pinggir
jalan pun menyebut diri mereka sebagai biro reklame. Pada saat didirikan, PPPI
beranggotakan 30 perusahaan periklanan. Sahrial Djalil AdForce menyumbangkan
logo bagi asosiasi yang baru itu. PPPI juga segera merumuskan Anggaran Dasar
serta Anggaran Rumah Tangga yang baru untuk menampung aspirasi periklanan
modern.
PEMBAHASAN
3.1 Strategi Promosi dan Periklanan
Elemen ketiga dari bauran pemasaran yakni promosi. Yang
termasuk promosi yakni perikalanan dan personnal selling dan mencakup
seluruh komunikasi diantara penjual dan pelanggan potensial. Promosi
dapat diubah sesuai dengan segmen pasar tertentu. Sebagian besar
perusahaan melakukan promosi melalui iklan.
Iklan memiliki dua fungsi dasar yakni : fungsi pemberi
infomasi dan membujuk (Lasher, 1999). Elemen fungsi pemberi infomasi
menyediakan informasi mengenai perusahaan serta produk dan jasa perusahaan
kepada pelanggan. Sedangkan fungsi membujuk bertujuan untuk meyakinkan orang
untuk membeli produk dan jasa perusahaan. Iklan dengan harga menciptakan
image dari perusahaan serta produk dan jasa yang diberikan perusahaan di
pikiran pelanggan potensial. Image tersebut dapat positif atau negative,
sebagian besar tergantung pemilihan dan penerapan dari iklan yang tepat dan
strategi harga oleh UKM.
Seluruh iklan dan aktivitas promosi lainnya harus selaras
dengan posisi perusahaan di pasar. Tidak hanya pada iklan, media lainnya
dalam promosi harus didasarkan untuk membangun dan memperkuat posisi
perusahaan.
Setiap promosi yang dijalankan sesungguhnya tergantung
kepada kemampuan komunikasi yang baik, jika dengan penjelasan yang disampaikan,
konsumen mampu mengetahui produk tersebut maka kegiatan promosi berjalan dengan
baik.
Dengan promosi yang sudah kita sampaikan, konsumen dapat
bereaksi dengan berbagai cara, misalnya dengan menyampaikan pesan kepada
konsumen lainnya.
Daftar mengenai alat – alat promosi yang penting yang dapat
dipakai untuk membangun suatu program penjuaan efektif, adalah :
·
Iklan
·
Kewiraniagaan
(personal selling)
·
Promosi
Konsumen (Hadiah, Perlombaan, Penawaran Kombinasi)
·
Metode
yang bertujuan merangsang iklan dan promosi dealer.
·
Pameran
dan eksibisi
·
Resiporitas
·
Jaminan
dan servis
·
Penawaran
komperatitif.
Karena banyaknya metode promosi, maka pengalaman menunjukan
bahwa tipe produk yang berbeda akan membutuhkan campuran bahan penjualan yag
berbeda pula Ini dapat digambarkan dengan membandingkan strategi promosi produk
industrial dengan barang konsumen. Hal ini memicu variasi dalam ciri–ciri merek
saingan, dan juga perbedaan dalam kebijaksanaan merek, saluran distribusi, dan
kebijakan harga, cenderung membutuhkan perbedaan dalam perpaduan promosi untuk
tercapainya hasil yang menguntungkan.
Kesimpulannya, hal terpenting promosi dalam strategi
pemasaran secara keseluruhan menunjukkan bahwa manajer harus mencurahkan waktu
untuk rencananya tertulis dan terus-menerus memantau kinerja rencana tersebut.
Strategi periklanan merupakan satu diantara strategi
pemasaran yang paling penting untuk usaha kecil. Iklan merupakan metode promosi
yang efektif yang menyediakan informasi mengenai produk dan jasa perusahaan
untuk pelanggan potensial, yang mencari tahu dua jenis informasi mengenai
produk yang ingin mereka beli.
Pertama, mereka ingin mengetahui mengenai produk dan jasa
itu sendiri dan yang kedua adalah bagaimana menggunakan produk atau jasa
tersebut. Telah banyak produk ataupun jasa yang memiliki kualitas tinggi yang
mengalami kegagalan di pasar karena pelanggan potensial tidak mengetahui produk
atau jasa tersebut atau bagaimana cara penggunannya.
Oleh karena itu, strategi periklanan membantu UKM untuk
memperkenalkan produk dan jasa mereka secara efektif dan mendorong penjualan
perusahaan. Iklan perlu direncanakan dan diterapkan secara professional.
Sebuah strategi periklanan yang efektif harus mengandung tiga elemen
utama yakni tujuan iklan, pemilihan media dan anggaran iklan. Sebelum
mendiskusikan ketiga elemen utama tersebut, berikut merupakan definisi dari
iklan.
3.2 Periklanan Dalam Sistem Komunikasi Massa
Meskipun periklanan memiliki banyak pengertian pribadi, kita
bisa menyetujui semuanya bahwa periklanan lebih banyak digunakan dalam sistem
informasi massa di kalangan masyarakat untuk tujuan ekonomi. Baik perorangan
atau kelompok, orang ingin menggunakan sistem informasi massa di dalam
masyarakat agar bisa memberikan atau memperoleh informasi, dan akhirnya membeli
atau menjual berbagai macam barang atau jasa. Sebagai lembaga kemasyarakatan,
periklanan telah menjadi sangat kompleks, dan sebagai sistem teknologi
komunikasi massa periklanan telah bermanfaat. Perorangan maupun kelompok
semakin sering menggunakan komunikasi massa untuk tujuan ekonomi, misalnya
untuk jual-beli barang, pelayanan (servis) kepada public, jual beli gagasan
atau jasa. Sungguh peningkatan manfaat yang mengejutkan.
Di dalam masyarakat modern, hampir tidak ada orang yang
tidak disibukkan oleh kegiatan periklanan. Ibu rumah tangga ingin mengetahui
harga sayuran di pasat, sementara suaminya ingin mengetahui di mana saja
pedagang (dealer) mobil yang mengadakan penawaran termurah. Pda remaja putri
ingin tahu apakah mode pakaian yang terbaru telah dimuat dalam majalah yang
tersediadi toko-toko buku terdekat. Sementara membaca majalah teknik, sepintas
lalu mata manajer penjualan barang-barang industry menangkap sebuah model
barang yang sangat indah; pikirnya pun mencatat bahwa majalah itu mengumumkan
banyak piringan hitam dan CD (Compact Disk) yang pertama bebas error. Pada
distributor besi baja membaca-baca majalah di rumah, dan iklan peralatan kantor
membuatnya ingin tahu bagaimana kalau dia ingin menambah sedikit sentuhan pada
kantornya yang baru.
Dosen muda yang cerdas telah ditugaskan pada universitas
yang berbeda wilayah, dan meskipun dia menyalahkan iklan sebagai pemanipulasi,
dia langsung mempersiapkan iklan klasifikasi untuk menjual rumahnya, jadi tidak
menggunakan pelayanan para agen real estate. Mungkin dia belajar, tentunya
betapa banyak waktu, kecakapan, dan pengetahuan diperlukan, namun bagi para
penelepon, rupanya iklannya itu menyesatkan. Sebuah masjid ingin mengontrak
sebuah khatib baru atau ingin mengganti perlengkapan sound systemnya, sebuah
bengkel kendaraan ingin memperkenalkan pelayanan yang bisa diperoleh di bengkel
tersebut, politikus ingin menambah simpati public atau masyarakat umumnya, dan
sebagainya, semuanya tidak terlepas dari keterlibatannya dalam kegiatan
periklanan.
Contoh-contoh tersebut membantu kita untuk mewujudkan dan
memahami betapa penting adanaya suatu lembaga atau institusi yang memadukan
segala komponen dan mekanik yang terlibat dalam kegiatan periklanan. Sebab,
iklan digunakan oleh setiap orang, tidak hanya oleh penjual barang-barang
konsumtif saja. Lebih luas lagi, periklanan pada hakikatnya berkaitan dengan
sistem informasi massa dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan
teknologi. Satu sama lain berinteraksi menggunakan sistem informasi dimaksud
dan menyebarkan semua masalah yang terkait dengan sistem tersebut, termasuk
masalah keagamaan.
3.3 Keputusan Penting dalam
Periklanan
Manajemen
pemasaran harus membuat lima keputusan penting sewaktu mengembangkan program
periklanan.
a. Menetapkan
tujuan
Langkah
pertama dalam pengembangan program periklanan adalah menetapkan tujuan
periklanan. Tujuan periklanan harus dilandaskan pada keputusan-keputusan
terdahulu mengenai pasar sasaran. Positioning, dan bauran pemasaran, yang
nantinya akan menentukan tugas harus dilakukan periklanan dengan program
pemasaran keseluruhan.
Tujuan
periklanan adalah tugas komunikasi tertentu yang harus dilakukan dengan audiens
sasaran tertentu selama periode waktu tertentu. Tujuan periklanan dapat
digolongkan menurut keperluan utamanya apakah memberi informasi, membujuk, atau
mengingatkan.
Priklanan
informatif digunakan habis-habisan pada saat suatu kategori produk yang baru
mulai diperkenalkan.
b. Menetapkan
Anggaran Periklanan
Setelah
menentukan tujuan periklanannya perusahaan menetapkan anggaran periklanan untuk
setiap produk. Berikut ini adalah beberapa faktor spesifik yang harus
dipertimbangkan pada waktu menetapkan anggaran periklanan:
·
Tahapan di dalam daur hidup produk
·
Pangsa pasar
·
Persaingan dan kesempatan
·
Frekuensi periklanan
·
Diferensiasi produk
c. Strategi
iklan
Strategi
iklan terdiri dari dua elemen utama: penciptaan pesan iklan dan penyelesaian
media iklan. Di masa lalu, kebanyakan perusahaan mengembangkan rencana untuk
pesan dan media secara terpisah. Rencana media sering dipandang kurang penting
ketimbang proses penciptaan pesan. Departemen kreatif mula-mula menciptakan
iklan yang baik; kemudian departemen media memilih media terbaik untuk
menyampaikan iklan ini kepada audiens sasaran yang diinginkan. Ini sering kali
menyebabkan fiksi antara tim kreatif tim media.
·
Menciptakan pesan iklan
Anggaran iklan yang
besar tidak menjamin berhasilnya suatu kampanye iklan. Dua pemasang iklan bisa
saja mengeluarkan biaya yang sama besar, tetapi hasilnya bisa jauh berbeda.
Betapapun besarnya anggaran, iklan akan berhasil jika siaran iklan tersebut
dapat menarik perhatian dan mengkomunikasikannya dengan baik.
·
Menyeleksi media iklan
Langkah utama dalam
menyeleksi media adalah (1) menentukan jangkauan, frekuensi, dan dampak; (2)
memilih tipe media utama; (3) menyeleksi wahana media tertentu; dan (4)
menentukan waktu penanyangan.
d. Evaluasi
iklan
Program
periklanan harus secara teratur mengevaluasi efek komunikasi dan efek penjualan
dari sebuah iklan. Mengukur efek komunikasi pada sebuah iklan-uji pesan (copy
testing) mengungkapkan apakah iklan tersebut mampu menyampaikan pesannya dengan
baik. Uji pesan dapat dilakukan sebelum atau sesudah sebuah iklan dicetak atau
disiarkan. Sebelum iklan ditempatkan, sang pengiklan dapat menunjukkan kepada
konsumen, menanyakan bagaimana mereka menyukainya, dan mengukur ingatan atau
perubahan sikap yang dihasilkannya. Sesudah sebuah iklan disebarluaskan,
pengiklan dapat mengukur bagaimana iklan mempengaruhi memory atau kesadaran
produk, pengetahuan dan preferensi konsumen.
Efek
penjualan dari iklan sering kali lebih sukar untuk diukur ketimbang efek
komunikasinya. Penjualan oleh banyak faktor di luar periklanan. Kita juga harus
memperhitungkan fitur, harga, dan ketersediaan produk. Satu cara untuk mengukur
efek penjualan dari iklan adalah dengan membandingkan penjualan di masa lampau
dengan pengeluaran iklan di masa lampau. Cara lainnya adalah dengan menggunakan
dengan eksperimen. Sebagai contoh, untuk menguji efek dari tingkat pengeluaran
iklan yang berbeda, Pizza Hut dapat memvariasikan jumlah yang dihabiskan pada
periklanan di area pemasaran yang berbeda dan mengukur perbedaan dalam tingkat
pemasaran yang dihasilkannya.
e. Mengorganisasikan
periklanan
Setiap
perusahaan mengorganisasikan periklanannya dengan cara mereka masing-masing.
Dalam perusahaan kecil, periklanan dapat ditangani oleh seseorang dari
departemen penjualan. Perusahaan membuat departemen periklanan sendiri, yang
tugasnya adalah menentukan anggaran periklanan, bekerja sama dengan agen
pemasang iklan dan menangani periklanan lewat pos, peragaan pengedar, dan
kiat-kiat periklanan lainnya yang tidak dilakukan oleh agen. Kebanyakan perusahaan
besar menggunakan agen pemasang iklan dari luar karena hal itu memiliki
beberapa keuntungan.
f. Keputusan
periklanan internasional
Pemasang
iklan internasional banyak kompleksitas yang tidak dijumpai pada pemasang iklan
domestic. Isu yang paling mendasar mencakup tingkat sampai dimana suatu iklan
global harus diadaptasi dengan karakteristik unik berbagai pasar negara.
Beberapa pemasang iklan besar telah mencoba untuk mendukung merek global mereka
dengan periklanan seluruh dunia yang sangat tinggi standarnya. Kampanye yang
berjalan di Bangkok sama baiknya dengan yang mereka jalankan di Baltimore.
Sebagai contoh, Jeep telah menciptakan citra merek mengenai kekokohan dan
kehandalan; pepsi menggunakan cita rasa terstandardisasi untuk membidik anak muda
di seluruh pelosok dunia, Nike mendorong orang Amerika, Afrika, Asia dan Eropa
untuk mengatakan “saya mampu”. Standardisasi menghasilkan banyak manfaat biaya
iklan yang lebih rendah, koordinasi periklanan global yang lebih besar, dan
citra yang lebih konsisten di seluruh dunia.standardisasi juga memiliki
kerugian. Kerugian ynag terbesar adalah bahwa standardisasi mengabaikan fakta
adanya perbedaan ynag sangat besar dalam hal kultur, demografi, dan ekonomi di
berbagai pasar negara.
3.4 Media Periklanan
Media periklanan adalah segala sarana
komunikasi yang dipakaiuntuk
mengantarkan dan menyebar luaskan pesan – pesan iklan. Pada prinsipnya, jenis
mediaiklan dalam bentuk fisik dibagi kedalam dua kategori yaitu media iklan
cetak dan media iklanelektronik.Media cetak adalah media statis dan
mengutamakan pesan-pesan visual yang dihasilkan dari proses percetakan;
bahan baku dasarnya maupun sarana penyampaian pesannya menggunakan kertas.
Media cetak adalah suatu dokumen atas
segala hal tentang rekaman peristiwa yangdiubah dalam kata-kata, gambar foto dan sebagainya (contoh :
surat kabar, majalah, tabloid, brosur, pamflet, poster.Sedangkan media elektronik adalah media yang
proses bekerjanya berdasar pada prinsipelektronik dan eletromagnetis
(contoh televisi, radio, internet).Diantara
dikotomi media tersebut ada satu media yang tidak termasuk dalam kategorikeduanya
yaitu media luar ruang (papan iklan atau billboard)
Jika dilihat dari pekerjaan kreatifnya maka media iklan
terbagi dua jenis yaitu:
a) Media lini atas
(above the line): media utama yang digunakan dalam kegiatan periklanan, contoh ; televisi,
radio, majalah,surat kabar.
b) Media lini bawah (below the line) ; media pendukung dalam kegiatan periklanan,contoh : pamflet,
brosur dan poster.
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1
Kesimpulan
Promosi dan periklanan
merupakan unsur yang termasuk ke dalam bauran pemasaran yang mana promosi
sebagai sarananya dan iklan sebagai alat untuk mempromosikan barang/jasa yang
ditawarkan kepada konsumen. Promosi dan periklanan masing-masing memiliki
strategi yang saling berkaitan atau berhubungan satu sama lain. Promosi dapat diubah sesuai dengan
segmen pasar tertentu dan sebagian besar perusahaan melakukan promosi
melalui iklan.
Adapun beberapa alat yang digunakan dalam promosi yaitu Iklan,
Kewiraniagaan (personal selling), Promosi Konsumen (Hadiah, Perlombaan,
Penawaran Kombinasi), Metode yang bertujuan merangsang iklan dan promosi dealer,
Pameran dan eksibisi, Resiporitas, Jaminan dan servis, Penawaran komperatitif.
Seperti yang kita ketahui bahwa iklan itu dimuat dan
disiarkan di media massa yaitu koran, majalah, televisi, radio dan lain-lain. Meskipun
periklanan lebih banyak digunakan dalam sistem informasi massa di kalangan
masyarakat untuk tujuan ekonomi. Baik perorangan atau kelompok, orang ingin
menggunakan sistem informasi massa di dalam masyarakat agar bisa memberikan
atau memperoleh informasi, dan akhirnya membeli atau menjual berbagai macam
barang atau jasa. Sebagai lembaga kemasyarakatan, periklanan telah menjadi sangat
kompleks, dan sebagai sistem teknologi komunikasi massa periklanan telah
bermanfaat.
Dalam periklanan harus mengambil keputusan penting sebelum
menerbitkan iklan tersebut. Adapu keputusan penting dalam periklanan antara
lain menetapkan tujuan, menetapkan anggaran, strategi iklan, evaluasi iklan,
mengorganisasikan periklanan dan keputusan periklanan internasional.
Periklanan tidaklah dapat berjalan dengan baik dan lancar,
bila tidak ada media yang menyampaikan informasi kepada orang yang berada di
tempat yang jauh untuk mempromosikan barang/jasa yang ditawarkan oleh sebuah
perusahaan. Berikut ini media periklanan: (1) Media
lini atas (above the line): media utama yang digunakan dalam kegiatan periklanan,
contoh ; televisi, radio, majalah,surat kabar. (2) Media lini bawah (below the line) ; media pendukung dalam kegiatan periklanan,contoh : pamflet,
brosur dan poster. Maka dari itu media periklanan sangat dibutuhkan sebagai perantara
untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat luas.
4.2 Saran
Saran dari kelompok kami semoga perusahaan dapat
mengiklankan barang atau jasa yang ditawarkan dengan jujur tanpa harus ada
unsur penipuan baik dalam komunikasi verbal maupun non verbal demi untuk
membujuk dan merayu konsumen agar membeli barang atau jasa yang diiklankan.
Semoga lembaga pemerintah/periklanan dapat lebih selektif
lagi dalam memilih iklan mana saja yang pantas untuk ditampilkan di tempat umum
yang tidak dapat merugikan banyak pihak apabila melihatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Winarno,
Bondan. 2008. Rumah Iklan. Jakarta:
PT. Gramedia.
Rangkuti,
Freddy. 2009. Strategi Promosi yang
Kreatif dan Analisis Kasus Integrated Marketing. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Jefkins,
Frank. 1996. Periklanan, Ahli Bahasa
Munandar Haris. Jakarta: Erlangga
Suhandang,
Kustadi. 2010. Periklanan: Manajemen,
Kiat dan Strategi. Bandung: Nuansa
Sunarto,
SE, MM. 2004. Prinsip-prinsip Pemasaran.
Yogyakarta: AMUS Yogyakarta & UST Press.


0 komentar:
Posting Komentar