Kamis, 14 Mei 2015

Perilaku Orgnisasi : Kelompok dalam organisasi



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kelompok merupakan bagian dari kehidupan manusia. Tiap manusia akan terlibat langsung dalam aktivitas kelompok. Demikian pula kelompok  merupakan bagian dari kehidupan organisasi. Dalam organisasi akan banyak dijumpai kelompok-kelompok .
Hampir pada umumnya manusia yang menjadi anggota dari suatu organisasi besar atau kecil adalah sangat kuat kecenderungannya untuk mencari keakraban dalam kelompok-kelompok tertentu. Dimulai dari adanya kesamaan tugas pekerjaan yang dilakukan, kedekatan tempat kerja, seringnya berjumpa, barangkali adanya kesamaan kesenangan bersama, maka akan timbullah kedekatan satu sama lain.
Dalam suatu kelompok organisasi atau perusahaan memiliki perilaku yang berbeda satu sama lain. Yang mana dengan perilaku yang berbeda satu sama lain akan menyebabkan  sikap yang saling mendukung satu sama lain.  Apabila ada satu atau lebih dalam kelompok tersebut yang memiki perilaku malas atau suka bolos kerja. Maka selaku teman satu tempat pekerjaan ada baiknya kita menegur dan menasihati teman kita yang suka bolos kerja dan malas tadi agar teman kita tersebut dapat menghilangkan sikap buruknya.
Yang mana perilaku organisasi merupakan suatu sikap efektif  yang dimiliki oleh individu yang terlibat dalam organisasi tersebut dan merupakan dinamika kelompok dan konteks organisasi serta sifat organisasi dalam mencapai tujuan perusahaan secara efektif.
Dengan demikian jika tiap-tiap individu berperilaku atau bekerja efektif dalam mencapai tujuannya, maka kelompok dimana ia menjadi anggota juga efektif dalam mencapai tujuan, kemudian seterusnya jika setiap kelompok dalam organisasi juga efektif dalam mencapai tujuan, organisasi itu juga efektif dalam mencapai tujuan.
Oleh karena itu perlu dipahami apa yang menjadi landasan perilaku individu, perilaku kelompok, dan perilaku keorganisasian di dalam organisasi, dan bagaimana mengelolanya supaya tujuan organisasi berhasil efektif.

1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana struktur dan perilaku dalam kelompok?
b. Bagaimana tahap perkembangan kelompok?
c. Bagaimana karakteristik kelompok?
d. Bagaimana Dinamika Kelompok?

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui struktur dan perilaku dalam organisasi
b. Untuk mengetahui dan memahami tahap perkembangan kelompok
c. Untuk mengetahui dan memahami karakteristik kelompok
d. Untuk mengetahui dinamika Kelompok dalam organisasi




BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Kelompok
Dalam literature ilmu administrasi dan manajemen, istilah kelompok tidak sama dengan pengertian sehari-hari. Sekelompok orang yang sama-sama antri membeli karcis kereta api, dari segi ilmu administrasi bukanlah kelompok (group), karena pada mereka tidak ada ikatan psikologis. Oleh sebab itu, para ahli ilmu perilaku sering menamakan dengan istilah “psychological goup”, atau kelompok yang mempunyai ikatan psikologis.
Schein mengatakan bahwa kelompok yang mempunyai ikatan psikologis adalah sejumlah orang yang saling berhubungan, saling memperhatikan (secara psikologis), dan menerima kenyataan sebagai suatu kelompok. Menurut Duncan suatu kelompok terdiri dari dua orang atau lebih yang berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama, interaksi tersebut bersifat relative tetap dan mempunyai struktur tertentu.
Menurut Schermerhorn dkk. (1985) yang mengambil definisi dari Wexley dan Yukl (1977). Kelompok ialah suatu kumpulan orang yang satu sama lain saling berhubungan (interact) secara teratur (regularly) selama jangka waktu tertentu dan mereka melihat bahwa mereka saling tergantung mengenai pencapaian pencapaian satu atau lebih tujuan bersama.
Kelompok itu adalah kumpulan yang terdiri dari dua atau lebih individu, dan kehadiran masing-masing individu mempunyai arti serta nilai bagi orang lain, da nada dalam situasi saling mempengaruhi.
      
 


2.2 Teori tentang terjadinya kelompok
Terbentuknya suatu kelompok tidak selalu karena adanya dorongan langsung dari pekerjaan yang harus dilakukan, sebab dalam kenyataan kita sering juga membentuk suatu kelompok atas dasar sukarela. Kelompok belajar atau kelompok wisata pada hakekatnya lebih merupakan kelompok yang terbentuk atas dasar sukarela. Bila kita sependapat dengan pendapat ini, pertanyaan yang timbul berkikutnya ialah : mengapa seseorang memasuki kelompok tertentu?
Terhadap pertanyaan ini para ahli mengetengahkan teori tarikan hubungan perorangan (interpersonal attractiom theory), seperti teori tukar-menukar, teori persamaan sikap, dan teori saling melengkapi.
Teori tukar-menukar (exchange theory of attraction) diperkenalkan oleh Thibaut dan Kelley pada tahun 1959. Menurut teori ini, interaksi dalam suatu kelompok terjadi dalam proses tukar-menukar antara imbalan (reward) dengan ongkos (cost). Dalam setiap interaksi seseorang selalu mendapatkan imbalan berupa kepuasan atas terpenuhinya sebagian kebutuhannya. Tetapi untuk itu ia harus membayar sejumlah ongkos tertentu, dalam bentuk berkurangnya kebebasannya, keharusannya tunduk pada norma dan sitem nilai kelompok, kelelahan, kebosanan, kecemasan, dan mungkin5 pula secara terpaksa harus melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dalam proses tukar-menukar tersebut, setiap orang senantiasa berusaha agar imbalan yang siperolehnya selalu lebih besar dari ongkos yang ia keluarkan. Ia pun selalu berusaha agar makin besar investasi yang ia berikan makin besar pula keuntungan yang ia peroleh atau sebaliknya.
Ada lagi teori tukar-menukar ini, yaitu teori yang dikemukakan oleh Newcomb (1961) dan disebut teori kesamaan sikap (theory of similar attitudes) Newcomb mengatakan6 bahwa seseorang cenderung tertarik kepada orang lain yang dianggapnya mempunyai sikap yang sama dengannya. Seseorang yang misalnya berpendapat bahwa tugas adalah yang paling penting, akan tertarik kepadan orang lain yang juga berpendapat demikian. Sebaliknya, seseorang yang7 berpendapat bahwa persahabatanlah yang paling penting bagi suatu kelompok atau organisasi, tidak begitu tertarik untuk berinteraksi dengan seseorang yang lebih mendahulukan tugas.
Winch (1958) berpendapat bahwa daya tarik untuk berinteraksi ditentukan oleh prinsip atau asas saling melengkapi (the principle of complementary) menurut winch seseorang tertarik untuk berinteraksi bukan karena ada kesamaan sikap, tetapi justru karena adanya perbedaan, misalnya dalam bentuk merasa ada kekurangan dalam diri sendiri dibandingkan dengan orang lain, justru mendorong seseorang untuk mendapatkan yang kurang itu dari orang lain. Prinsip ini sejalan betul dengan teori tukar-menukar yang telah disinggung diatas.
Selain pendapat diatas, sebagai pelengkap pembahasan mengenai sebab-sebab seseorang mengadakan interaksi, baik pula disebut teori perbandingan social (social comparison theory) yang diketengahkan oleh festinger pada tahun 1954. Menurut festinger, orang yang memasuki suatu kelompok pada hakekatnya mempunyai dorongan untuk mengadakan evaluasi terhadap dirinya. Festinger selanjutnya mengemukakan bahwa dengan memasuki suatu kelompok, seseorang akan tahu pendapat orang lain mengenai dirinya, termasuk tentang apa yang baik, yang boleh, dan yang tidak boleh dikerjakan. Melalui interaksi dalam kelompok itulah pula ia dapat mengetahui apakah pendapatnya, gagasan, dan pertimbangannya sesuai dengan kenyataan social.
Uraian yang cukup panjang diatas adalah mengenai tahap orang tertarik untuk membentuk suatu kelompok. Sekarang mari kita bahas kelanjutan tahap ini, yaitu tahap pembentukannya.
    
Tuckman pada tahun 1965, mengidentifikasi ada empat tahap dalam terbentuknya kelompok, yaitu tahap pembentukan (forming tahap pancaroba (storming) tahap pembentukan norma (norming), dan tahap berprestasi (performing).
Tahap pembentukan adalah tahapan dalam mana seseorang melakukan beberapa ‘pengujian’ terhadap anggota lainnya tentang hubungan perorangan yang bagaimana yang dikehendaki oleh kelompok.
Tahap kedua adalah tahap pancaroba, pada tahap ini mulai terjadi konflik dalam kelompok. Tiap anggota mulai menampilkan pribadinya masing-masing. Anggota yang satu mulai eksposif terhadap anggota kelompok lainnya atau bahkan kepada pemimpin. Pada tahap ini muncul pula berbagai reaksi untuk mencoba mengubah arah struktur kelompok. Oleh sebab itu, pada masa ini sering tercetus ungkapan yang menunjukkan ketidakpuasan terhadap keadaan kelompok.adanya tugas yang terbengkalai menjadi penanda akan tahap pancaroba ini.10
Tahap ketiga adalah tahap pembentukan norma. Tahap pancaroba member manfaat berupa makin terbukanya setiap anggota kelompok. Masing-masing menjadi lebih kenal dengan keadaan sesungguhnya anggota yang lain. Suasana begini membantu bagi terciptanya kesamaan perasaan, pengembangan keakraban, penentuan ukuran-ukuran, dan peranan baru. Bila semua ini sudah tercipta dalam kelompok, berarti kelompok sudah memasuki tahap ketiga, yaitu tahap pemebntukan norma.
Tahap terakhir adalah tahap berprestasi. Pada tahap ini hubungan antar perorangan berarti sebagai alat untuk pelaksanaan pekerjaan. Peranan seseorang menjadi lebih luwes dan makin fungsional. Luwes, karena setiap anggota mulai punya keinginan untuk membantu yang lain, sementara masing-masing tetap berusaha melakukan tugasnya sebaik-baiknya.



 
2.3 Jenis-jenis Kelompok
1.      Kelompok Formal adalah kelompok yang sengaja dibentuk dengan keputusan manajer melalui bagan organisasi untuk menyelesaikan suatu tugas secara efesin dan efektif.
Kelompok Formal dibedakan menjadi dua:
-          Kelompok Komando (command group) adalah kelompok yang ditentukan oleh bagan organisasi dan melaksanakn tugas-tugas rutin organisasi. Kelompok ini terdiri dari bawahan yang melapor dan bertanggungjawab secara langsung kepada pimpinan tertentu. Contoh : di perguruan tinggi (biro-biro, fakultas-fakultas dan unit-unit lainnya)
-          Kelompok Tugas (task group) adalah suatu kelompok yang bekerjasama untuk menyelesaikan suatu tugas atau proyek tertentu. Anggota kelompok ini biasanya berasal dari berbagai unit dalam organisasi yang di sesuaikan dengan kebutuhan akan keterammpilan dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakn tugas atau proyek tersebut. Contoh : panitia pemilihan mahasiswa baru.

2.      Kelompok Informal adalah suatu kelompok yang tidak dibentuk secara formal melalui struktur organisasi, yang muncl karena adanya kebutuhan akan kontak social.
Kelompok ini dibedakan menjadi dua :
-          Kelompk Persahabatan adalah kelompok yang terbentuk karena adanya kesamaan-kesamaan tentang suatu hal, seperti kesamaan hobi, jenis kelamin dan latar belakang.
-          Kelompok Kepentingan adalah kelompok yang berafiliasi untuk mencapai sasaran yang sama. Sasaran jenis kelompok ini tidak berkaitan dengan tujuan organisasi tetapi semata-mata untu kmencapai kepentingan kelompok itu sendiri.


2.4 Manfaat Kelompok
Banyak manfaat yang dapat diambil dari adanya kelompok baik di dalam maupun di luar suatu organisasi, antara lain:
1.      Kelompok merupakan alat perjuangan bagi anggotanya.
2.      Kelompok dapat digunakan untuk meningkatkan inovasi dan kreativitas.
3.    Kelompok lebih baik dari pada perorangan dalam mengambil keputusan yang menyangkut banyak orang.
4.   Anggota kelompok dapat memperoleh keuntungan dari pelaksanaan pengambilan keputusan.
5. Kelompok dapat mengendalikan dan mendisiplinkan anggotanya dibandingkan dengan mereka yang tidak masuk ke dalam kelompok.
6.   Kelompok membantu menangkis pengaruh–pengaruh negatif dan meningkatnya organisasi yang semakin besar.
7.  Kelompok adalah fenomena alami di dalam organisasi. Perkembangannya yang spontan tidak dapat dihalangi dan dibutuhkan oleh para anggota sebagai alat untuk mencapai tujuan.12
8.   Kelompok sering digunakan apabila usaha atau kegiatan perorangan tidak mencapai hasil yang memuaskan. Kelompok diperlukan dalam upaya mewujudkan efisiensi dan efektivitas kerja melalui kerjasama.
9.   Kelompok digunakan untuk memunculkan atau mengembangkan gagasan. Dalam kelompok, orang–orang tidak hanya dapat mengumpulkan gagasan melainkan pula mengalami proses memunculkan dan menyusun gagasan.

     
10. Kelompok digunakan untuk menumbuhkan saling belajar melalui saling tukar pengalaman, pendapat, informasi, persepsi, dan keyakinan antar anggota kelompok. Oleh karena itu kelompok dimanfaatkan untuk membantu orang – orang yang terlibat dalam suatu kelompok untuk mengatasi kekhawatiran, ketidak berhasilan, dan keengganan bekerjasama antar anggota. Kelompok dapat menggunakan potensi pemikiran para anggota, mempertimbangkan keyakinan yang telah mereka miliki dan dapat mengembangkan sikap positif diantara para anggota. Kelompok lebih berguna dalam meningkatkan kemampuan pembelajaran ranah afeksi.
11.  Kelompok digunakan untuk meningkatkan partisipasi dan memperluas rasa pemilikan bersama para anggota suatu kelompok, termasuk visi, misi, tujuan dan program – programnya. Penerimaan lebih baik oleh anggota terhadap hasil kegiatan kelompok terjadi apabila para anggota berpartisipasi atau terlibat secara aktif dalam proses diskusi atau berbagai kegiatan kelompok.13














BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Struktur dan Perilaku Kelompok
Kelompok-kelompok mempunyai struktur yang mewadahi perilaku para anggotanya dan memungkinkan untuk menerangkan dan meramal sebagian besar perilaku individu di dalam kelompok dan prestasi kerja dari kelompok itu sendiri. Variable-variabel struktur ini adalah kepemimpinan formal, peran, norma, konformitas, ukuran kelompok, dan komposisi kelompok.
1.      Kepemimpinan formal
Hampir semua kelompok kerja memiliki seorang pemimpin formal yang bisa dinamakan manajer departemen, pemimpin proyek, kepala gugus tugas, ketua komite, dan lain-lainnya. Efek dari sifat pemimpin pada prestasi kerja kelompok pada umumnya memberikan hasil yang tidak konklusif.14
2.      Peran
Peran didefinisikan sebagai corak perilaku yang diharapkan, yang seharusnya dimiliki oleh seseorang yang menduduki salah satu posisi di dalam sebuah unit sosial. Pengertian tentang perilaku yang diperankan akan menjadi sangat sederhana andaikan setiap individu di antara kita memilih satu peran dan memainkannya secara regular dan konsisten.15
3.      Norma
Norma didefinisikan sebagai standar perilaku yang bisa diterima dalam sebuah kelompok yang diakui nilai baiknya dan dipatuhi oleh para anggota kelompok. Jadi, norma inilah yang memberitahukan kepada para anggota hal-hal yang boleh dan hal-hal yang tidak boleh dikerjakan dalam keadaan-keadaan tertentu.16

  
4.      Konformitas
Konformitas didefinisikan sebagai penyesuaian perilaku seseorang untuk menselaraskan dengan norma kelompok. Telah banyak bukti bahwa kelompok-kelompok dapat memberikan tekanan yang kuat pada para anggota secara individual untuk mengubah sikap dan perilaku mereka untuk menselaraskan dengan standar kelompok.
5.      Ukuran kelompok
Ukuran kelompok dapat mempengaruhi perilaku kelompok secara menyeluruh. Kelompok-kelompok kecil lebih cepat menyelesaikan tugas daripada kelompok besar. Tetapi, kalau sebuah kelompok terlibat dalam penyelesaian problem, ukuran besar secara konsisten lebih baik daripada ukuran kecil. Jadi, kelompok besar itu, dengan anggota tujuh orang atau lebih, lebih efektif untuk fact-finding, sedangkan kelompok kecil dengan anggota mendekati tujuh orang cenderung lebih efektif untuk pengambilan tindakan.17
6.      Komposisi kelompok
Aktivitas kelompok memerlukan bermacam keterampilan dan pengetahuan. Dengan adanya keperlukan tersebut, beralasan untuk mengambil kesimpulan bahwa kelompok-kelompok heterogen, yaitu kelompok-kelompok yang terdiri dari individu-individu berbeda, cenderung lebih memiliki bermacam kemampuan informasi dan tentunya lebih efektif.18

3.2 Tahap Pembentukan Kelompok
Prestasi sebuah kelompok tergantung pada kemampuan individu dan pada seberapa baiknya para anggota kelompok tersebut belajar bekerjasama satu dengan lainnya. Sebagai contoh, suatu panitia jenis produk baru yang dibentuk dengan maksud menimbulkan tanggapan terhadap pesaing dapat berkembang menjadi suatu tim yang sangat efektif, dimana kepentingan perusahaan tersebut menjadi paling penting. Akan tetapi, pembentukan tersebut juga dapat menjadi sangat tidak efektif jika anggotanya lebih mementingkan tujuan departemennya sendiri ketimbang pengembangan tanggapan terhadap pesaing.
Salah satu model pengembangan kelompok mengasumsikan bahwa kelompok berproses melalui empat tahap pengembangan yang diuraikan sebagai berikut:
-          Dukungan Bersama
Pada tahap awal pembentukan kelompok, para anggotanya umumnya enggan berkomunikasi satu sama lainnya. Secara khasnya, mereka tidak mau menyatakan pendapat, sikap, atau keyakinan. Hal ini sama dengan situasi yang dihadapi anggota staf pengajar pada permulaan semester baru. Kemungkinan terjadinya interaksi dan diskusi kelas sangat sedikit, sampai para anggota kelas saling menerima dan mempercayai satu sama lain.
-          Komunikasi dan Pengembangan Keputusan
Setelah kelompok mencapai tahap dukungan bersama, para anggotanya mulai berkomunikasi secara terbuka satu sama lain. Komunikasi ini menimbulkan peningkatan kepercayaan dan bahkan interaksi lebih banyak di dalam kelompok tersebut. Diskusi mulai memusatkan perhatian lebih khusus atas tugas-tugas pemecahan masalah pengembangan strategi pilihan untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut.
-          Motivasi dan Produktivitas
Inilah tahap pengembangan di mana usaha dikerahkan untuk mencapai tujuan kelompok. Kelompok bekerja sebagai unit yang bekerja sama bukan sebagai unit yang bersaing.
-          Pengendalian dan Pengorganisasian
Pada tahap ini, klasifikasi kelompok dinilai dan para anggota diatur oleh norma kelompok. Tujuan kelompok mendahului tujuan individual, dan norma kelompok dipatuhi atau sanksi diterapkan. Sangsi yang terakhir adalah pengasingan (pemboikotan) karena tidak mematuhi tujuan atau norma kelompok. Bentuk pengendalian lain meliputi pengucilan sementara dari kelompok atau gangguan dari anggotanya.

3.3 Karakteristik Kelompok
Sebagian besar tugas menuntut adanya suatu keanekaragaman ketrampilan dan pengetahuan. Dengan perkataan lain bahwa komposisi anggota kelompok yang heterogenitas akan lebih efektif dari kelompok homogen. Jika kelompok yang heterogenitas dalam hal kepribadiannya, pendapatnya, kemampuan, keahlian, dan perspektifnya, ada kecenderungan bahwa kelompok tersebut akan lebih efektif menyelesaikan tugasnya.
Suatu kelompok dapat memiliki berbagai karakteristik, misalnya : homogenitasnya, ukuran besar kecilnya, dan kelekatannya, yang dapat berpengaruh terhadap perilaku, kinerja, keberhasilan, dan kepuasan. Kelompok yang para anggotanya heterogen atau berbeda-beda dalam hal kemampuan, keahlian, pendapat, dan pandangan misalnya, lebih sering mengandung konflik, tetapi menurut kenyataannya lebih efektif daripada yang homogin.19
§  Karakteristik Kepribadian
Sejumlah studi menunjukkan bahwa ada hubungan antara sifat-sifat kepribadian dan sikap terhadap perilaku. Sifat-sifat kepribadian dan sikap terhadap perilaku. Sifat-sifat kepribadian para anggota kelompok mempunyai efek terhadap prestasi kelompok oleh pengaruh kuat tentang bagaimana anggota kelompok berinteraksi dengan para anggota kelompok yang lain. Karakteristik kepribadian para anggota kelompok menentukan perilaku kelompok tersebut.


     
3.4 Dinamika Kelompok
Dinamika kelompok mengutamakan adanya interaksi dan pertukaran pengaruh di antara sesama anggota kelompok dalam sebuah situasi sosial. Jika konsep ini diaplikasikan pada studi tentang perilaku organisasi, sebaiknya konsep ini difokuskan kepada dinamika para anggota kelompok, baik yang formal maupun informal di dalam organisasi.
Sebetulnya, belum ada persetujuan yang universal mengenai definisi dari dinamika kelompok ini. Salah satu pendapat yang normatif mengatakan bahwa dinamika kelompok menggambarkan bagaimana sebuah kelompok sebaiknya diorganisasikan dan dijalankan. Dalam pendapat ini, dinamika kelompok mengutamakan kepemimpinan yang demokratik, partisipasi anggota, dan kerja sama yang menyeluruh. Pendapat lain tentang hal yang sama ini mengatakan bahwa dinamika kelompok itu, terdiri dari seperangkat teknik seperti permainan-peran, brainstorming kelompok tanpa, pemimpin, terapi kelompok, latihan sensitivitas, pembentukan tim, dan analisis transaksional. Pendapat lain lagi mengatakan bahwa dinamika kelompok20 seharusnya dipandang dari sifat internal sebuah kelompok secara perspektif, bagaimana dibentuknya, struktur dan prosesnya, bagaimana fungsi dan pengaruhnya kepada para anggota, kepada kelompok-kelompok lain, dan kepada organisasi. Dengan menganalogikannya dengan pendapat-pendapat tersebut diatas, akhirnya dapat didefinisikan pengertian tentang kelompok sebagai berikut: kelompok adalah kumpulan dari beberapa individu yang didalamnya terdapat hal-hal berikut:
a.       Interaksi antaranggota
b.      Persepsi mengenai keanggotaan dalam kelompok
c.       Saling berbagi norma dan nilai-nilai
d.     
      
Saling menggantungkan nasib (apa yang terjadi pada soerang anggota akan mempengaruhi atau mengenai anggota-anggota kelompok lainnya dan apa yang terjadi pada kelompok secara keseluruhan akan mempengaruhi para anggota secara individual).21

 
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dalam suatu kelompok organisasi terdapat struktur kelompok. Yang mana struktur tersebut memiliki variable-variabel yaitu kepemimpinan formal, peran, norma, konformitas, ukuran kelompok, dan komposisi kelompok.
Kelompok sangatlah penting dalam suatu organisasi karena kelompok dapat mempermudah proses kinerja karyawan dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Dalam organisasi terdapat tahap-tahap pembentukan kelompok yaitu dukungan bersama, komunikasi dan pengembangan keputusan, motivasi dan produktivitas, serta pengendalian dan pengorganisasian.
Di samping itu, kelompok memiliki karakteristik. Suatu kelompok dapat memiliki berbagai karakteristik, misalnya : homogenitasnya, ukuran besar kecilnya, dan kelekatannya, yang dapat berpengaruh terhadap perilaku, kinerja, keberhasilan, dan kepuasan. Kelompok yang para anggotanya heterogen atau berbeda-beda dalam hal kemampuan, keahlian, pendapat, dan pandangan misalnya, lebih sering mengandung konflik, tetapi menurut kenyataannya lebih efektif daripada yang homogin.
Selain karakteristik kelompok juga miliki dinamika kelompok. Dinamika kelompok mengutamakan adanya interaksi dan pertukaran pengaruh di antara sesama anggota kelompok dalam sebuah situasi sosial. Jika konsep ini diaplikasikan pada studi tentang perilaku organisasi, sebaiknya konsep ini difokuskan kepada dinamika para anggota kelompok, baik yang formal maupun informal di dalam organisasi.


4.2 Saran
Ø  Dalam perusahaan atau organisasi sebaiknya kelompok dapat mengerjakan tugas atau pekerjaan secara lebih efektif dan efisien.
Ø  Struktur kelompok yang dibentuk oleh suatu perusahaan seharusnya dapat membedakan antara tugas, peran dan kewajiban yang dimiliki masing-masing individu dari kelompok organisasi tersebut.
















DAFTAR PUSTAKA

Gitosudarmo, Indriyono, Drs, M.Com & Sudita, Nyoman I, M.M. 1997. Perilaku keorganisasional. Yogyakarta: BPFE.
Indrawijaya, Ibrahim Adam.2009. Perilaku Organisasi. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Kartono, Kartini. 2014. Pemimpin dan Kepemimpinan: apakah kepemimpinan Abnormal itu?,Jakarta: Rajawali Persada.
Muchlas, Makmuri. 2005. Perilaku organisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sigit, Soehardi. 2003.  Perilaku organisasional Esensi. Yogyakarta: BPFE UST.












0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar